Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan—Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, - dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. —Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, — supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik. (Kutipan dari Bacaan Kedua).
Sebenarnya baru beberapa tahun terakhir ini saja kita mengenal profesi ‘motivator’, akan tetapi gaungnya terdengar cukup luar biasa. Dan kita biasanya tertarik dengan berbagai janji indah untuk yang ingin menghadiri acaranya, akan tetapi apabila dicermati, kita akan mendapati bahwa segala janji kesuksesan, ketentraman dan sebagainya itu tetaplah harus dibayar dan dilakukan dengan pikiran terfokus dan kesungguhan hati, walaupun seringkali dibungkus dengan istilah-istilah yang indah dan menantang, seperti meninggalkan comfort zone dan sebagainya. Akan tetapi para motivator itu tidak salah, untuk mendapatkan apa yang sungguh diinginkan memang seseorang harus melakukan pengorbanan untuk dapat mencapainya. Dan bagi yang tidak cukup kuat dan fokus memegang cita-citanya, seringkali mereka menjadi kecewa akan pencapaiannya sendiri.
Mari kita melihat kembali pada paragraph pertama yang dikutip dari bacaan kedua diatas. “Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri”. Bukankah yang disampaikan Rasul Paulus diatas itu adalah “meninggalkan comfort zone”? Yaitu dengan menghindari pikiran terbagi-bagi, dan hanya fokus pada satu hal saja untuk mencapai hal yang benar dan baik?
Dalam Bacaan Injil, kita mendapati Yesus di Kapernaum yang bertemu dengan seorang yang kerasukan roh jahat, dan orang itu berteriak: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami?” Perhatikanlah kata-kata roh jahat itu yang menyebut dirinya dengan: ‘kami’, karena orang itu dirasuki berbagai dan banyak pikiran (jahat) yang menyebabkan ia tidak bisa menggunakan pikirannya sendiri yang satu, terfokus, waras dan benar. Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” dan keluarlah roh jahat yang banyak itu dan ia kemudian sembuh.
Ada berapa banyak pikirankah yang menguasai kita selama misa ini? Ada berapa banyakah keinginan yang timbul dalam pikiran kita selama 1 jam terakhir? Dan apabila ada begitu banyak pikiran dan keinginan yang menguasai kita, bukankah kita akan seperti orang-orang Israel yang pada bacaan pertama berkata: “Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku”. Semoga kita dapat menyingkirkan berbagai hal yang sebenarnya telah kita biarkan untuk mengganggu pikiran kita, untuk kemudian terfokus hanya kepada Tuhan minimal selama ibadat kita. Sehingga kita bisa menghayati dan bersama-sama menyanyikan Mazmur tanggapan hari ini: “Singkirkanlah penghalang sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu.”




