Karya penyelamatan manusia dpt terlaksana melalui keterlibatan manusia. Dan manusia-manusia yg dilibatkan dlm karya penyelamatan itu dipanggil secara khusus oleh Allah. Bacaan pertama dan bacaan injil hari ini berbicara ttg panggilan khusus tersbt. Bacaan pertama menceriterakan ttg panggilan Samuel menjadi Nabi (1Sam 3:1-21). Sdgkan injil menceriterakan ttg panggilan 2 murid pertama, yaitu Yohanes dan Andreas (Yoh 1:35-39). Ada pola yg sama dlm kisah panggilan. Pertama, Allah yg mengambil inisiatip. Misalnya, Allah secara langsung memanggil Samuel 3 kali; dua murid pertama dipanggil melalui Yohanes Pembaptis. Bdk juga : Yoh 15:16 “Bukan kamu yg memilih Aku, melainkan Akulah yg memilih kamu”. Kedua, manusia hrs menjawab “ya” atas panggilan Tuhan. Bdk. Jawaban Samuel atas panggilan Allah : “Bersabdalah ya Tuhan, sebab hambaMu ini mendengar” (1 Sam 3:10). Sama dgn jawaban Bunda Maria : “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Juga Nabi Yeremias : “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku, dan Engkau menundukkan aku” (Yer 20:7). Dan konsekuensi dari jawaban “ya” tersebut adalah mereka meninggalkan segala-galanya dan mengikuti panggilan Allah. Ketiga, orang yg dipanggil itu harus menjadi manusia yg berbeda dgn sebelumnya (=”manusia baru”) atau “harus menyangkal dirinya” (Mat 16:24; Mrk 8:34; Lk 9;23) dan ini sering disimbolkan dgn nama baru (bdk : Abram menjadi Abraham; Yakob menjadi Israel; Simon menjadi Kefas atau Petrus. Keempat, panggilan slalu mempunyai misi atau tugas khusus. Bdk panggilan Samuel utk mewartakan Firman Tuhan dan menjadi hakim atas Israel (Sam 3:19; 7:15); Maria menjadi “Bunda Allah”; kedua murid pertama utk “tinggal” bersama-sama dgn Yesus (Yoh 1:39). “Tinggal” di sini berarti mengenal Tuhan lbh dekat dan tentunya juga utk mencintai Dia. Dan setelah dipanggil, dia juga membawa orang lain utk menjumpai Tuhan. bdk Andreas yg membawa Simon, saudaranya, utk bertemu dgn Yesus (Yoh 1:42). Lalu apa makna panggilan ini bagi kita ? Pertama, krn panggilan adalah inisiatip dari Allah, maka kita hrs tetap rendah hati dan bersyukur. Bdk. Sikap Andreas, yg jadi murid pertama, tapi tetap rendah hati, walau tdk pernah jadi “orang dalam”, bahkan slalu di belakang Petrus, sdranya. Kedua, saat ini org membedakan pekerjaan sbg “profesi” dan sbg “panggilan” (=calling). Profesi biasanya dikaitkan dgn keahlian dan kompensasi (=gaji). Sedangkan panggilan dikaitkan dgn “pelayanan” dan “pengabdian total / passion ”. Maka, apakah kita menilai pekerjaan kita saat ini sbg sebuah panggilan atau hanya sebuah profesi ? Ketiga, panggilan menjadikan kita “manusia baru”. Nama baptis adalah simbol “manusia baru” dan menunjukkan sebuah relasi baru dgn Tuhan, yg diteladankan oleh Org Kudus, yg namanya kita ambil. Dlm konteks pekerjaan, maka menjadi “manusia baru” artinya menjadi pribadi-pribadi yg menguasai, menekuni dan mencintai pekerjaannya. Apakah kita juga telah menjadi “manusia baru” (bdk. 2 Kor 5:17; Kol 3:5-17). Keempat, panggilan slalu mempunyai misi atau tugas khusus. Maka, apa misi khusus yg kita emban sbg orang Katolik atau Pengikut Kristus ? Demikian juga sbg karyawan atau usahawan katolik, misi khusus apa yg kita jalankan ? Dkl, arti atau nilai khusus apa yg kita berikan sbg karyawan atau usahawan katolik ? Mari kita meneladani sikap Rasul Andreas dlm bacaan injil hari ini : 1) Dia tdk menyia-nyiakan peluang utk mengikuti Yesus, ketika Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus (Yoh. 1:36); 2) Dia langsung “tinggal” dgn Yesus (Yoh 1:39). 3) Dia mengakui Yesus sebagai “Mesias” (Kristus=Yang Terurapi) (Yoh 1:41). 4) Dia mengajak Simon, sdranya, utk berjumpa dgn Yesus (Yoh 1:41).




