Saat para murid sedang berkumpul di dalam kamar terkunci, Yesus menampakan diri diantara mereka. Dulu saya membayangkan betapa senangnya mereka saat melihat Yesus hadir diantara mereka, akan tetapi setelah dipikir-pikir, disana ada Petrus yang telah menyangkal Yesus tiga kali, Yakobus dan Yohanes yang ketiduran sewaktu diminta menjaga Yesus berdoa, dan semua murid Yesus yang lain juga malah lari terbirit-birit ketakutan saat Yesus ditangkap. Saya membayangkan kalau ada seorang kenalan yang meninggal tiga hari lalu, sementara disaat-saat akhir hidupnya saya banyak berbuat kesalahan kepadanya, lalu tiba-tiba dia menampakan diri dihadapan saya, reaksi pertama saya pasti sangat ketakutan. Akan tetapi yang diucapkan Yesus saat pertama kali menampakan diri kepada mereka justru sangat menenteramkan: “Damai sejahtera bagi kamu!” Sungguh suatu sapaan yang menyejukan hati, walaupun sebenarnya semua murid-murid-Nya sudah melakukan kesalahan kepada Yesus. Bahkan sesudah itu, Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada mereka, yang mengingatkan akan debu tanah yang dihembusi oleh Allah dan menjadi manusia (Kej 2:7). Karena Yesus memang ingin agar kita murid-murid-Nya mempunyai hidup yang baru.
Lalu di babak kedua satu minggu kemudian, kisahnya adalah tentang rasul Tomas yang dalam bahasa Aram disebut “Te’oma”, yang artinya kembar/ganda. Tomas yang tidak hadir minggu lalu, digambarkan sebagai manusia yang peragu, tidak mudah percaya begitu saja. Dan seringkali kita sedikit meremehkan atau bahkan merendahkan iman Tomas yang tidak seperti rasul yang lain dalam kepercayaan pada kebangkitan Kristus. Tetapi Tomas pada kenyataannya adalah murid Yesus, bahkan mungkin salah satu yang paling berani, misalnya saat ia berkata: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” (Yoh 11:16), sebuah kalimat yang tentunya lahir dari rasa kasih dan kesetiaannya kepada Yesus. Jadi, siapakah Tomas sebenarnya?
Dapat dikatakan Tomas adalah seseorang yang disatu sisi adalah seorang yang amat mencintai Yesus, tetapi sekaligus juga orang yang tidak mudah percaya begitu saja. Siapakah orang yang seperti itu? Yang disatu sisi mau mencintai Yesus, bahkan rela untuk pergi jauh ataupun membuang waktu demi Tuhan, akan tetapi disisi yang lain, seperti Tomas ia tidak mudah percaya kepada Kristus yang tampak dari suka menunda untuk bertemu Tuhan dalam persekutuan di lingkungannya, atau menolak untuk meneruskan kebaikan kepada orang lain (Padahal semua kebaikan kita asalnya dari Tuhan yang telah memberikan kesehatan, kesejahteraan, kepandaian bahkan kekayaan), dan juga menolak untuk membantu dalam tugas-tugas gereja yang adalah Tubuh-Nya. Itulah sebabnya Yesus meminta Thomas untuk mencucukan jarinya ke luka di tangan dan lambung-Nya, agar Thomas dapat turut merasakan penderitaan Kristus demi dia.
Pada hari ini kita patut bersyukur karena Kristus masih mengatakan: “jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah”. Dan mudah-mudahan bersama Tomas kita juga bisa berkata: “Ya Tuhanku, dan Allahku!”, dan seperti Tomas yang kemudian menjadi rasul yang mewartakan paling jauh daripada semua rasul-rasul lainnya.




