Terang dan gelap adalah dua kenyataan hidup kita. Gelap sering disebut sebagai tiadanya terang. Perihal terang ini Yesus menyatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat 5: 16). Kutipan Injil itu menarik. Rupanya “terang bercahaya” disamakan dengan “perbuatanmu yang baik” agar Tuhan dimuliakan. Mengapa demikian? Karena perbuatan jahat (kebencian, perang, fitnah, pembunuhan, korupsi, tindak kekerasan, penindasan) akan selalu mengakibatkan penderitaan, kesedihan, keputus-asaan, kehancuran, dan dendam sehingga pantas disebut sebagai kegelapan. Sebaliknya, perbuatan baik (pengampunan, kebaikan hati, keadilan, pemberian tanpa pamrih, pertolongan yang tulus) menjadi terang sehingga orang yang menerimanya akan melihat cahaya dalam hidupnya sehingga hidup mereka dan dunianya menjadi lebih baik. Tidak mudah untuk mampu menjadi terang. Kebaikan selalu menuntut biaya dan pengorbanan sehingga orang berat melakukannya. Menolong orang sakit yang miskin dengan membawa ke dokter pasti berarti pengeluaran uang dan waktu ekstra; mengampuni orang yang bersalah kepada kita, pasti menuntut kerelaan untuk berkorban.
Berbuat adil dan tidak pilih kasih harus mengabaikan kepentingan sendiri. Berbuat sesuatu tanpa pamrih atau tidak mengharapkan imbalan memerlukan keberanian untuk menyingkirkan kepentingan pribadi. Pendek kata, menjadi terang artinya berani menyingkirkan sikap egois (mementingkan diri) yang lumrah ada dalam hati manusia. Kalau semuanya demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain, di mana tempat bagi diri sendiri? Diri sendiri tidak hilang tetapi makin kaya karena orang mau berbagi. Justru dengan perbuatan baik itu hidup akan lebih berarti dan terasa lebih kaya. Kebaikan atau cahaya akan membuat hati dan hidup orang bermakna dan mengalami damai dan sejahtera. Orang akan merasa dekat dengan Tuhan dan karenanya dapat memuliakan Tuhan Yang Mahabaik, tidak hanya dengan kata dan ucapan, tetapi dengan perbuatan. Sementara perbuatan jahat justru membuat hati dan hidup orang menjadi hampa dan risau karena mengalami kegelapan. Mana yang harus dipilih? Semoga lewat pengalaman kita berpihak pada terang dan kegelapan dapat menjadi motivasi atau modal dasar untuk memilih menolak kejahatan sehingga mengalami terang dan menjadi terang bagi orang lain. Pilihan itu tentu bukan barang gampang sehingga perlu doa dan latihan serta perjuangan terus menerus.




