Pada tahun 2011 yang lalu, terjadi kasus yang cukup menghebohkan di dunia pendidikan. Kasus ini dialami Alif (14), siswa yang melaporkan kecurangan UN di sekolahnya, SD Negeri Gadel 2, Tandes, Surabaya. Alif diminta guru memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak tahu. Kasus ini ramai diperbincangkan hingga keluarga Siami (ibu Alif) diusir warga dari rumahnya yang tidak suka dengan kejujuran Alif. Alif dan keluarganya pun dituding sok jujur oleh guru, orangtua siswa yang lain, dan juga oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
"Kami mendidik Alif untuk selalu jujur dan percaya dengan kemampuan sendiri. Tetapi, di sekolah ia malah diajari tidak jujur. Saya dihujat masyarakat dan dianggap sok pahlawan," kata Siami yang datang ke pemutaran film tanpa Alif. Bagi orangtua siswa lain dan masyarakat setempat, kata Siami, berbagi jawaban soal ujian merupakan hal yang lumrah dan wajar. Guru yang meminta Alif berbagi jawaban itu pun justru dianggap oleh masyarakat hanya berkeinginan membantu siswa agar lulus UN. Bagi Siami, hal ini tidak bisa dibiarkan dan ia harus bertindak. " Kalau saya diam saja dan tidak berjuang, nanti saya tidak bisa memberi contoh yang baik ke anak saya." ujarnya.
Kutipan Injil Lukas 12:49-53 adalah suatu kutipan yang jika tidak hati-hati dalam membaca dan memahaminya akan membuat orang salah mengerti dan menarik kesimpulan bahwa Yesus datang ke dunia ini untuk membawa kekacauan besar.
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi … Kamu menyangka , bahwa aku datang untuk membawa damai di atas bumi ?Bukan, kataku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan”(Luk 12:49-51)
Jadi, kedatangan Yesus menyebabkan pertentangan, konflik, kesusahan dan permusuhan? Rupanya demikian halnya. Kisah hidup Yeus memang sudah membuktikan hal itu. Jika kita membaca Injil dengan teliti, kita akan menemukan bahwa sejak kelahiranNya ia sudah membuat banyak kalangan menjadi was-was. Raja Herodes memutuskan untuk membunuh semua anak-anak dibawah umur 12 tahun di Betlehem hanya karena mendengar berita dari orang-orang Majus bahwa seorang raja baru telah lahir di kota itu. Herodes ketakutan bahwa ia akan kehilangan kekuasaan.
Setelah Yesus tampil di depan publik untuk mewartakan Injil, segera ia mendapat musuh di mana-mana. Musuh utamanya adalah justru para pemimpin agama Yahudi karena mereka terus menerus dikritik oleh Yeus dan menyebut mereka sebagai orang munafik. Sebelum Yesus tampil, tak seorang Israel pun yang berani mengkritik kaum Farisi dan Saduki sebab mereka adalah kelompok imam yang secara tradisional sudah diserahi tugas untuk memelihara kehidupan rohani bangsa Israel. Tetapi Yesus tidak berkompromi dengan mereka karena memang dengan terang-terangan mereka menyelewengkan hukum Musa demi kepentingan pribadi.
Jelas sekali bahwa kehadiran Yesus itu menciptakan keresahan besar bagi orang Farisi dan Saduki . Orang Farisi dan Saduki ini yang mempunyai massa yang taat dan tidak mengetahui kejahatannya. Mereka mulai merasa takut bahwa mereka akan kehilangan massa, wibawa dan akhirnya kehilangan mata pencaharian. Karena situasi yang genting ini, mereka memutuskan bahwa Yesus harus dilenyapkan.
Kehadiran Yesus memang terbukti membawa “perpecahan”, tetapi semuanya itu adalah suatu pertentangan antara “yang baik” dan “yang buruk”. Orang Kristen dipanggil untuk bersaksi dan mengungkapkan kebenaran. Hal itu memang bukan suatu hal yang mudah dan membutuhkan kekuatan dan ketekunan dalam iman. Sadar akan beratnya tugas ini, maka penulis Surat Ibrani telah menegaskan agar“ kita bertekun dalam iman dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita “ (Ibr 12:1)
Namun sebelum kita memberikan kesaksian itu keluar, kita sendiri harus benar terlebih dahulu. Marilah kita berpikir dengan benar, mengisi hati kita dengan kebenaran, dan melakukan sendiri kebenaran. Amin




