Ada satu kisah tentang seorang bangsawan Inggris yang kaya raya. Pada suatu hari ia memanggil pembantunya, dan ia memberikan tongkat ajaibnya seraya berkata :”Simpanlah tongkat ajaib ini sampai engkau menemukan orang yang lebih dungu daripadamu. Setelah menemukannya berikanlah tongkat ini kepadanya.” Hambanya yang pelawak itu menerimanya dengan senang hati dan sejak itu ia selalu membawanya sambil mencari orang yang lebih dungu daripadanya. Ia tak juga menemukannya.
Suatu hari sang bangsawan yang kaya itu memanggilnya. Ia berbaring sakit dan kondisinya sudah kritis menunggu akhir hidupnya. Ia menyuruh sang pelawak duduk dekat sampingnya dan berkata : “Saya akan melakukan perjalanan yang jauh sekali.” “Tuan akan kemana ?” Tanya sang pelawak. “Saya tidak tahu”, jawab bangsawan tua itu. “ Apakah bapak sudah membuat persiapan”, Tanya sang pelawak. Sambil mengangkat bahunya, bangsawan itu menjawab “Tidak sama sekali. “ Sang pelawak menyerahkan kembali tongkat ajaib yang pernah diberikan bangsawan itu kepadanya sambil berkata : “ Jika demikian halnya ambillah ini. Ini milikmu , sebab engkaulah orang yang lebih dungu daripadaku. “
Dalam perikop sebelumnya para murid telah diajar oleh Yesus untuk hanya takut kepada Allah dan tidak kuatir akan hidup mereka yang selalu dijaga dan dipelihara oleh Allah. Dalam perikop ini, mereka diingatkan untuk waspada kepada ketamakan karena hidup mereka tidak tergantung kepada kekayaan. Hidup manusia tidak tergantung pada banyaknya harta, tetapi tergantung pada Allah.
Pengajaran tentang tidak tergantung pada harta ini dibuka dengan kedatangan seorang yang tidak dikenal dari antara orang banyak. Ia datang kepada Yesus dan meminta agar ia menjadi “hakim” atas pembagian harta warisan dengan saudaranya. Yesus menolak menjadi pengadil atas persoalan mereka, tetapi permintaan orang itu membuka jalan bagi Yesus untuk memberikan pengajaranNya mengenai harta kekayaan. Yesus mengingatkan agar orang berhati-hati terhadap ketamakan. Peringatan itu tentunya ditujukan juga kepada kita semua yang hidup di zaman ini. Kita tidak hanya harus berhati hati terhadap uang, tetapi terlebih terhadap ketamakan, pada hasrat untuk memiliki lebih banyak. Ketamakan bisa memecah belah orang, bahkan dengan saudara sendiri seperti yang ada dalam kisah ini. Ketamakan membuat orang mengukur hidup dengan uang,harta, kepemilikan dan mengabaikan relasi dan harmoni dalam perjumpaan dengan Allah dan sesama.
Lukas menyampaikan ilustrasi dalam bentuk perumpamaan untuk menekankan pengajaran di atas. Ilustrasi itu adalah orang kaya yang sampai bingung di mana mau menyimpan hartanya, maka ia merombak lumbung-lumbungnya menjadi besar dan menempatkan hasil tanahnya di lumbung-lumbung tersebut. Dalam ayat 17-19 jelas sekali bahwa orang kaya ini hanya mementingkan dirinya sendiri , di mana terdapat 13 kali kata AKU yang menandakan hal itu.
Apa yang salah dengan orang itu ? Mengapa Yesus mengatakan orang itu sebagai orang bodoh ? Kata “bodoh“ itu mempunyai makna yang penting karena dalam Perjanjian Lama , kata ini digunakan untuk menunjuk seseorang yang bertindak tanpa Allah atau tanpa kebijaksanaan dan menghadapi sebuah ancaman kehancuran (bdk. Pkh 2,1-11,Mzm 14,1). Orang ini dikatakan bodoh karena ia tidak menyadari bahwa hidupnya tidak tergantung pada hartanya yang berlimpah (bdk Luk 12,15). Ketika ia merasa hidupnya aman karena banyak barang di lumbungnya utuk kebutuhan hidupnya selama bertahun tahun, rupanya Allah mempunyai rencana lain. Malam itu juga jiwa orang itu akan diambil oleh Allah. Orang kaya itu menguasai banyak harta , tetapi Allahlah yang menguasai jiwanya. Orang bisa berlimpah harta ,tetapi hidupnya tergantung pada Allah, bukan pada hartanya yang banyak.Maka tidak cukuplah orang menjadi kaya, tetapi orang harus kaya di hadapan Allah. Inilah inti ajaran Yesus ini.




