Injil hari ini berkisah tentang Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke rumah Marta. Kita bisa membayangkan betapa sibuknya Marta karena kedatangan rombongan itu, apalagi lagi pada jaman itu belum ada kompor gas, dan layanan cepat antar atau delivery service seperti sekarang. Sebaliknya Maria hanya duduk saja dekat kaki Yesus untuk mendengarkan perkataan-Nya. Akhirnya Marta tidak tahan lagi dan meminta Yesus agar menyuruh Maria membantunya. Tetapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”
Kisah ini sangat menarik, sekaligus membingungkan kita. Manakah yang seharusnya kita lakukan? Menjadi Marta atau Maria? Mungkin kita akan berpikir sebaiknya mengikuti perkataan Yesus untuk menjadi Maria, akan tetapi apa jadinya bila Marta menuruti perkataan Yesus, meletakan piring dan gelas yang dibawanya, lalu duduk di sebelah Maria. Lalu siapa yang akan melayani seluruh rombongan itu?
Sebaliknya, dalam bacaan pertama dikisahkan Abraham melayani kedatangan Tuhan dengan sungguh-sungguh, dan mendapat rahmat untuk mendapatkan keturunan. Bagi orang Yahudi, melayani kedatangan tamu adalah kewajiban yang amat penting, sebagai bagian dari budaya dan keramah-tamahan mereka. Bukankah Yesus sendiri mengatakan: “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40). Dan bahkan Ia sendiri rela membasuh kaki murid-murid-Nya? Sehingga jelaslah dalam kisah kali ini Yesus tidaklah mengkritik pelayanan Marta, melainkan karena Marta: “kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara”. Mengapakah Marta kuatir dan menyusahkan diri? Karena seperti kita, Marta terjebak dengan menilai ukuran pelayanan dengan ukuran duniawi, yaitu dengan ingin kelihatan berhasil, sukses, dan hebat, padahal dengan ukuran itu, justru Marta melupakan tujuan utamanya untuk melayani Tuhan, yaitu memberikan kasihnya. Dan karena ukuran itu pula ia menjadi kuatir dan tidak terima Maria hanya duduk mendengarkan saja. Kiranya Yesus tidak menyalahkan pelayanan Marta, tetapi menyayangkan ia yang melupakan kasih dalam pelayanannya.
Ataukah jangan-jangan Yesus menyampaikan pengajaran ini karena Ia mengetahui bahwa banyak dari antara murid-murid-Nya kelak, yang apabila ditawarkan atau diminta untuk ikut duduk berdoa dan belajar firman Tuhan, akan berkata bahwa dirinya amat sibuk dengan berbagai hal penting lainnya (Luk 10:41-42). Atau sebaliknya bila diminta untuk pergi bekerja (Mat 28:19-20), malah berkata bahwa mereka akan membantu dengan duduk mendoakan?




