“Ini aku. Utuslah aku!” (Yes 3:8)
Dalam bukunya “To see the unseen – Kisah di balik Damai di Aceh” Dokter Farid Husain menceriterakan ttg suka-dukanya dalam menyelesaikan konflik Aceh. Ketika Bpk Yusuf Kala menjadi Menko Kesra, Dirjen Pelayanan Medik Dept Kesehatan ini diutus utk membantu menyelesaikan konflik Ambon dan Poso. Dan di saat Yusuf Kala menjadi Wapres, dia diutus lagi utk membantu menyelesaikan konflik Aceh. Tugas itu tidak mudah, karena dokter Farid harus berkali-kali melobi delegasi GAM. Bahkan untuk tugas itu dia terpaksa masuk keluar hutan di Aceh untuk bertemu dengan keluarga pejuang GAM. Usahanya ini berhasil membangun hubungan emosional yg baik dgn delegasi GAM. Dan akhirnya GAM mau menandatangani pakta perdamaian dengan Pemerintah Indonesia dan mengaku sebagai bagian dari NKRI. Ini sebuah prestasi besar bangsa kita yg juga telah diakui dunia internasional.
Bacaan minggu ini berbicara ttg kisah panggilan atau lebih tepatnya kisah “pengutusan”. Dlm bacaan I (Yes 6:1-2a.3-8), dikisahkan ttg pengutusan Nabi Yesaya. Walau anggap diri tdk layak, Yesaya tdk berani menolak pengutusan Allah. Bahkan dgn suara lantang dia menjawab : “Inilah aku. Utuslah aku”. Dlm bacaan II (I Kor 15:1-11) Rasul Paulus menyinggung ttg pengutusannya menjadi “rasul”. Dia yg menganggap diri sbg “yg paling hina dari semua rasul, krn menganiaya umat Kristen” telah berubah menjadi Rasul yg besar. Dia diutus untuk mewartakan “Kristus yg telah menderita dan wafat krn dosa kita, telah dikuburkan, namun bangkit pada hari yg ketiga”. Dlm bacaan Injil, dikisahkan pula ttg panggilan dan pengutusan rasul-rasul angkatan pertama, yaitu Simon yg disebut Petrus, Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus). Mereka diutus untuk menjadi “penjala manusia”( Lk 5,10).
Kekristenan sulit dipisahkan dari “karya pengutusan”. Sejak Yesus memilih murid pertama sampai akhirnya Dia naik ke surga, “pengutusan” merupakan bagian utama dari strategi penyelamatan. Ketika memilih murid pertama, Yesus memberi mereka tugas pengutusan untuk menjadi “penjala manusia” (Lk 5:10). Dan sebelum naik ke surga Dia menegaskan lagi tugas pengutusan itu : “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu” (Mt 28:19). Ada beberapa faktor penting dari kisah “panggilan atau pengutusan”. Pertama, panggilan itu adalah “anugerah cuma-cuma” dari Allah, bukan karena “kehebatan” diri seseorang. Allah memanggil seseorang karena Allah “mengasihi” dia. Kedua, Allah memanggil orang dari latar-belakang yg berbeda-beda. Yesaya punya latarbelakang sebagai “staf ahli” dlm lingkungan kerajaan. Paulus sebagai “ahli agama Yahudi”. Sedangkan para rasul mempunyai latarbelakang bermacam-macam; ada yg nelayan, pegawai pajak, politikus, dll. Ketiga, Allah memilih seseorang utk sebuah “panggilan”, untuk sebuah “pengutusan”, bukan utk sebuah “profesi”. “Profesi” dan “panggilan” itu berbeda. Profesi biasanya dikaitkan dengan sebuah “keahlian” yg memberikan “penghasilan” dan “prestise”. Sedangkan “panggilan” dikaitkan dengan “pengabdian” dan “passion”. Keempat, ketika Allah memanggil seseorang, dia menyadari dirinya “tidak layak”. Bandingkan pengakuan Paulus yg mengatakan : “aku yang paling hina dari semua rasul” (I Kor 15:8). Atau Yesaya : “aku yg najis bibir”. Berhadapan dgn panggilan Allah, manusia menyadari dirinya “kecil”. Kelima, panggilan Allah tidak bisa ditolak. Bandingkan penolakan Yesaya yg mengaku “berbibir najis” atau Petrus yg “seorang berdosa” (Lk 5:8). Tetapimerekatetap dipilih Allah. Lalu apa pesan bacaan-bacaan hari ini untuk kita ? Sbg pengikut Kristus, kitapun diberi tugas pengutusan. Ke mana kita diutus ? Kita diutus ke dalam keluarga kita masing-masing, ke lingkungan kita, ke tempat kita bekerja, ke tengah masyarakat di mana kita menjadi warganya. Apa tugas pengutusan kita ? Menjadi “garam dan terang dunia” (Mat 5:12-14). Atau bersama Santo Fransiskus Asisi kita siap menjadi “Pembawa Damai” (lihat PS no.221). Ketika mengakhiri perayaan ekaristi hari ini Imam berkata : “Marilah pergi ! Kita diutus” dan kita tanpa ragu menjawab “Amin” artinya kita siap menjalankan tugas pengutusan tersebut. Maka bersama Nabi Yesaya kitapun dgn penuh keyakinan menjawab “Inilah Aku Tuhan. Utuslah aku!”




