Bacaan Injil pada minggu ini sangat keras! Betapa tidak. Coba direnungkan kembali,” Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan” (Mark 9: 43). Bukan hanya tangan, tetapi kaki dan mata sekalipun kalau menyesatkan harus dipangkas atau dienyahkan. Peringatan keras Yesus itu dalam kerangka hidup mengikuti Yesus untuk menyongsong kedatangan kerajaan Allah sejak sekarang sampai nanti pada kepenuhannya di surga.
Mengikuti Yesus adalah jalan cinta kasih kepada Tuhan yang diaplikasikan pada kasih kepada sesama dan lingkungan hidup kita. Cinta kasih adalah prinsip dasar yang tidak bisa dikompromikan dengan apapun. Cinta kasih sejati mesti jauh dari sikap dan perilaku egois (mementingkan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain), iri hati, dengki, kesombongan, permusuhan, kebencian, balas dendam, dan pembunuhan. Tangan, kaki, dan juga mata dapat menjadi penghalang orang untuk mencintai Tuhan dan sesamanya. Tangan yang seharusnya untuk menolong dan berbuat baik, dapat menjadi alat untuk merusak dan mencederai bahkan membinasakan. Kaki yang harusnya ringan untuk membimbing orang ke jalan kebaikan bisa menjurumuskan orang ke dosa dan kebencian serta balas dendam. Mata yang seharusnya untuk memandang keindahan dan kebaikan agar dapat bersyukur kepada Tuhan dan sesama dapat disalahgunakan untuk mematai-matai dan mencelakai orang. Karena mata yang melihat orang menjadi iri dan berniat jahat terhadap orang lain.
Tangan, kaki, dan mata yang menghalangi untuk mengasihi harus disingkirkan. Dulu ada pandangan dikotomis antara badan dan jiwa. Badan dianggap sumber dan biangkeladi kejahatan. Sedangkan jiwa adalah sumber kebaikan. Kini badan dan jiwa manusia dipandang sebagai keutuhan. Oleh karena itu, badan dan seluruh tubuh harus didayagunakan bagi peningkatkan kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu) cinta kasih yang harus diberikan kepada keluarga dan sesama yang dijumpai setiap hari. Aplikasi cinta kasih sebagai prinsip harus sesuai dengan situasi dan kondisi konkrit seseorang yang membuatnya harus berkompromi, misalnya dengan kemampuan keuangan, keadaan keluarga, dan buah atau hasil yang diharapkan. Tetapi, modal awalnya adalah sikap tidak berkompromi dengan niat dan kehendak yang berlawanan dengan cinta kasih. Setelah itu barulah melatih diri agar semakin hari hidup kita makin berada dalam jalan cinta kasih yaitu jalan untuk mengikuti Yesus agar sampai ke keselamatan.




