Betapa dekatnya kita dengan Bunda Maria: kita sangat mengasihi dan menghormatinya; betapa Sang Bunda kita jadikan tumpuan harapan dan teladan atas iman, kesucian, kerendah-hatian dan kesetiaan yang luar biasa. Minggu ini kita merayakan Santa Perawan Maria diangkat ke Sorga.Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. (Why 12:1).
Dalam sejarah keselamatan, Maria punya peran yang istimewa dan unik. “...setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan...” [Gal 4:4]; maka jika untuk melahirkan Yesus, Maria disucikan dan dikandung tanpa noda dosa, dan selama hidupnya tidak berdosa (karena tidak seperti manusia lainnya, ia tidak mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa/concupiscentia), maka selanjutnya, adalah setelah wafatnya, Tuhan tidak akan membiarkan tubuhnya terurai menjadi debu, karena penguraian menjadi debu ini adalah konsekuensi dari dosa manusia.
Nubuat Simeon bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya telah terpenuhi dengan penderitaannya melihat Yesus Puteranya disiksa sampai wafat di hadapan matanya sendiri. Penderitaan tak terlukiskan ini mempersatukannya dengan Kristus, dan karenanya layaklah ia menerima janji yang disebutkan oleh Rasul Paulus, “… jika kita menderita bersama-sama dengan Dia…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” [Rom 8:17].
Sebagaimana disimpulkan dari Kitab Suci bahwa Maria adalah Hawa yang baru. Maka sebagaimana Hawa dahulu mengambil bagian dalam ketidaktaatan Adam, demikian pula Maria sebagai Hawa yang baru mengambil bagian dalam ketaatan Kristus sebagai Adam yang baru. Dengan ketidaktaatannya, Hawa membawa kematian bagi umat manusia, sedangkan Maria, dengan ketaatannya membawa hidup bagi umat manusia, karena ia mengandung Sang Hidup yang menebus dan memberikan kehidupan kekal kepada manusia. Maria secara istimewa menyatu dan bekerja sama dengan Kristus, tidak saja dengan melahirkan-Nya tetapi juga di dalam fase-fase penting dalam kehidupan-Nya. Maka jika kasih Adam kepada Hawa memimpinnya kepada dosa, kasih Kristus kepada Maria memimpinnya untuk “mengambil bagian di dalam pertentangan-Nya melawan Iblis dan kepada hasil akhirnya”, yaitu kemenangan total di dalam tubuh dan jiwa atas dosa dan maut.
Keistimewaan apakah yang dimiliki Sang Bunda? Bukankah dia hanya seorang gadis belia sederhana yang menjaga kesucian, rendah hati dan setia pada imannya? Namun, justru kesetiaan pada imannya itulah yang membuat semuanya terjadi. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:45).
Tuhan Yesus sendiri bersabda:…Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. (Mat 17:20). Belum yakinkah kita pada kuasa firman Allah? Marilah kita belajar meneladan kesetiaan iman Sang Bunda agar apa yang dikatakanNYA terlaksana: Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.(Luk 1:51-53).




