Hari Senin, 20 Februari 2012, ada perdebatan sengit berkenaan dengan pemberitaan korupsi. Ada yang tidak setuju jika memperbincangkan hal-hal yang “tidak bermutu”. Lalu ia berseru, “....jangan sumpêk..., nyantai saja”
Kata sumpêk barangkali belum familiar dengan bahasa harian kita. Kata “Sumpêk” yang dimaksud di sini bukan tokoh dalam kisah Cina klasik yang berjudul San Pek-Eng Tay. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sumpêk ini berarti resah, risau, sesak, merasa tidak enak dan pengap. Ada orang yang merasa sumpêk karena memiliki beban pikiran dan hanya bisa plong jika curhat kepada orang lain. Ada orang yang sumpek tinggal di perumahan kumuh yang padat penduduknya, sehingga tidak bisa leluasa bergerak. Juga ada orang yang merasa sumpek jika melihat tumpukan pakaian kotor di ruang tamu. Dia ingin lari dari kesumpekan tersebut. Sumpêk juga bisa diartikan sebagai tempat yang pengap. Orang yang tinggal di kamar kosnya yang sempit dan tidak berjendela. Dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman pahit tentang sumpêk ini. Sangat sehari-hari.
Ada seseorang yang merasa tidak at home di rumahnya sendiri, padahal rumahnya bagus, indah dan megah. Kemudian saya bertanya kepada ibu itu. Katanya, “Aduh saya sangat sumpêk di rumah. Setiap pulang dari kantor suami pulang dan langsung lihat TV sambil merokok sehingga baunya ampek. Kemudian, saya melihat ada pakaian kotor yang belum dicuri. Tiba-tiba, anak-anak datang hanya sibuk dengan FB-nya tidak mau membersihkan tempat tidur. Sementara mau seterika listrik mati. Belum lagi, anak saya yang bungsu bertengkar rebutan mainan. Hiiiiiih sumpêk sekali dan kepala rasanya mau pecah.” Memang benar bahwa rasa sumpêk itu perlu dihadapi dengan arif dan bijaksana dan salah satunya adalah refreshing. Refreshing bisa membuat pikiran segar kembali dan untuk sementara waktu boleh menjadi obat rasa sumpêk.
Sekarang bagaimana dengan ke-sumpêk-an yang terjadi dalam batin orang. Ada kalanya kita tidak ada semangat sama sekali dalam mengerjakan sesuatu atau bad mood. Suasana batin seperti itu, kita menjadi sensitif. Kita menjadi sumpêk dengan diri sendiri. Namun ada orang yang melarikan diri supaya bisa “melupakan” rasa sumpek tersebut. Whitney Houston (1963 - 2012) dalam wawancara dengan Oprah Winfrey mengatakan bahwa dengan kokain dan marijuana dirinya merasa tenang dan damai. Tetapi setelah menggunakan obat itu, ke-sumpêk-an dihadapi lagi dan ingin lagi menggunakan obat tersebut. Seperti minum air laut. Semakin minum air laut, semakin hauslah dirinya.
Sumpek ya. Mungkin berdoa lebih baik. Hmmmm…dalam masa ini, berdoa tobat akan jauh lebih baik.




