Dalam perayaan Rabu Abu yang mengawali Masa Prapaskah, umat katolik menerima abu di dahi masing-masing sebagai tanda yang mengingatkan kita untuk bertobat, bahwa satu-satunya Keselamatan hanya dari Sang Penebus, guna mempersiapkan diri untuk menyambut Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita. Keterbatasan manusia tidak memungkinkannya untuk melakukan kehendak Allah tanpa cela sepanjang hidupnya. Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Ptr 5:8). Kebodohan dan kebebalan menjauhkan orang dari pengenalan akan Allah; kenikmatan dunia selalu mencari kesempatan melemahkan iman; kesulitan dan penderitaan terus menghajar dan menggerogoti upaya menjalani hidup sesuai kehendakNya. Tidak ada manusia yang bisa luput dari dosa dan hukumannya! Walaupun terus-menerus melanggar ketetapanNYA dan berdosa, Allah tidak mengkehendaki kematian manusia; Allah menghendaki pertobatan agar orang menjauhkan diri dari kejahatannya, maka hukuman atas dosa bukanlah hal utama. Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." (Kej 9:8-11). Allah telah menubuatkan Karya Agungnya melalui para Nabi; bahwa Mesias akan mengorbankan diri untuk menghapus dosa dunia. Karya Agung itu tentu tidak mudah dipahami dengan akal manusia; perlu campur tangan Allah dan tanggapan positif dari manusia yang rela tunduk merendahkan diri dihadapanNya. Gereja telah menentukan masa persiapan ini mulai hari Rabu Abu sampai ha ri Kematiannya di kayu salib dengan mewajibkan umat untuk berpantang dan berpuasa, mengurangi kesenangan hidup di dunia fana ini dengan bermatiraga dari kenikmatan-kebiasaan sehari-hari (makan daging, suka ngemil, merokok, mudah marah, berlaku kasar, bohong, sombong, egois, dst), serta mendorong perilaku saleh, melakukan perbuatan amal kasih, terutama kepada sesama yang membutuhkan. Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan - maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah - oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya. (1 Ptr 3:18-22). Tema prapaska tahun ini “Bersatu dalam Ekaristi, dan diutus untuk berbagi” sungguh memberi gambaran tepat bagaimana umat Allah didorong untuk menimba kekudusan dan kekuatan dari Sakramen Maha Suci, yang akan memampukan kita baik secara pribadi maupun kelompok untuk berbagi dengan sesama yg membutuhkan. "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk 1:15).




