
Bacaan I: Yes. 35:4-7a; Bacaan II: Yak. 2:1-5; Bacaan Injil: Mrk. 7:31-37.
EFATA
Injil hari ini (Mrk. 7:31-37) mengisahkan penyembuhan seorang tuli & bisu. Biasanya kalau tuli sejak kecil, seseorang akan menderita kesulitan berbicara atau bisu. Ada 4 hal penting dari peristiwa ini : 1) Yesus memisahkan orang tuli-bisu itu dari orang banyak (ayat 33). Memisahkan orang tuli-bisu dari orang banyak sebagai tanda "pengakuan dan penghargaan". Kondisi tuli bisu telah menurunkan rasa harga diri seseorang. Dia merasa "tak berdaya dan rendah diri". Oleh karena itu Yesus mau memulihkan harga dirinya dengan memisahkannya dari orang banyak. Yesus ingin memperlakukan orang tuli-bisu sebagai "pribadi" yang perlu diperhatikan dan dihargai. 2) Menyentuh anggota badan yang sakit (telinga & lidah)(ayat 33). Tehnik penyembuhan seperti itu sudah lazim pada masa itu. Dengan menyentuh badan seseorang, "tenaga penyembuhan" akan mengalir kepada si sakit. Tehnik seperti ini masih dilakukan sampai sekarang. Ketika mendoakan orang sakit, disarankan untuk memegang badan si sakit, agar kekuatan penyembuhan dari Allah disalurkan lewat si Pendoa akan mengalir kepada si sakit dan mendatangkan penyembuhan. 3) Menengadah ke langit dan berkata "Efata" (ayat 34). Dengan menengadah ke langit, Yesus meminta bantuan BapaNya di surga untuk menyembuhkan si Sakit. 4) "Ia menjadikan segala-galanya baik" (ayat 37). Teks ini mengingatkan kita akan kisah penciptaan. Setelah 6 hari Allah menciptakan langit dan bumi, "Allah melihat bahwa semuanya itu baik" (Kej. 1:25).
Apa yang dikerjakan Yesus melengkapi karya Allah menciptakan dunia, yang dijadikannya baik. Apa makna bacaan hari ini untuk kita ? Salah satu kata kunci dalam kisah penyembuhan di atas adalah "EFATA". "Efata" berasal dari bahasa Aram "ethpthah" artinya terbukalah. Dalam huruf Yunani ditulis "ephphatha", sehingga menjadi ephata atau efata. Kata itu penuh daya, sehingga ketika Yesus mengucapkan kata itu, maka terbukalah telinga dan mulut si Tuli-Bisu. EFATA dijadikan juga satu acara dalam Upacara Pembaptisan Anak. Dalam acara itu, Imam berdoa : “Sebagaimana dengan mengucapkan ‘Efata’, Engkau telah membuka mulut dan telinga orang-orang bisu-tuli, maka sudilah membuka mulut dan telinga anak ini, agar ia dapat mendengarkan SabdaMu dan mengakui imannya demi keselamatan manusia serta kemuliaanMu”. Dalam kondisi tertentu, kita juga seperti orang tuli & bisu. Kita kadang menutup telinga terhadap Firman Allah, yang membawa kabar gembira, kabar kebaikan, kasih, pengharapan, pengampunan, dll. Kita juga tidak berani mewartakan Firman Allah melalui kata-kata dan tindakan kita. Dalam perayaan Ekaristi ini, marilah kita berdoa agar Tuhan membuka mulut dan telinga kita untuk mendengarkan Sabda Allah dan bersaksi bahwa “semua yang dikerjakan Tuhan itu baik”.[YS]




