
Bacaan I : Yeh. 33:7-9; Bacaan II : Rm. 13:8-10; Bacaan Injil: Mat. 18:15-20.
KITAB SUCI: INSPIRASI SEMANGAT REKONSILIASI
Kitab Suci bukan hanya bacaan harian bagi kita umat Katolik, namun dia adalah petunjuk arah bagi kehidupan umat beriman. Kitab Suci sebagai Sabda Allah berfungsi untuk mendidik, menegur, memulihan dan menyatukan kita sebagai para pengikut Kristus. Dari ketiga bacaan hari ini kita diingatkan kembali bagaimana peran Kitab Suci dalam kehidupan menggereja.
Dalam bacaan pertama dikisahkan bagaimana Allah menugaskan Yehezkiel sebagai penjaga bagi Israel. Tugas Yehezkiel adalah memperingatkan mereka yang jahat untuk bertobat sesuai dengan firman Allah. Jika Yehezkiel tidak menyampaikan firman yang dimaksud dan orang jahat tersebut mati dalam kesalahannya maka Yehezkiel ikut bertanggungjawab atas kematiannya (Yeh. 33:8). Pesan dari bacaan ini bagi kita bahwa sebagai pengikut Kristus kita bertanggung jawab untuk bersaksi kepada orang berdosa dan membantu memimpin mereka agar kembali kepada TUHAN sebelum terlambat.
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberikan petunjuk pastoral yang sangat berharga kepada para murid-Nya. Inti dari petunjuk pastoral ini adalah semangat rekonsiliasi. Hal ini dilakukan apabila ada anggota jemaat yang berbuat dosa maka jalan rekonsiliasilah yang harus dikedepankan. Langkah yang dilakukan adalah secara bertahap, mulai dari menegur di bawah empat mata. Jika belum berhasil maka para murid diminta untuk menghadirkan satu sampai dua orang saksi. Apabila masih belum ada titik temu maka permasalahan dapat disampaikan kepada jemaat. Ini adalah cara Yesus menempatkan setiap pribadi itu berharga. Ia menghormati setiap pribadi, menghargainya. Karena Ia menawarkan cara pada para murid agar mereka tidak mudah menghakimi sesama, menyalahkan sesama yang lain. Yesus mengajak para murid untuk berusaha membangun komunikasi yang baik dengan mereka yang berbuat salah, sehingga tidak membuat malu, marah, tapi membantu mereka sadar.
Yesus menyadari bahwa tugas para murid sebagai penjaga bukanlah hal yang mudah. Mereka harus dapat menyampaikan teguran yang sifatnya adalah ajakan untuk bertobat, kembali ke jalan kebenaran, bukan penghakiman yang melukai hati. Karena itu dalam bacaan kedua, Paulus mengingatkan jemaat di Roma bahwa inti dari Kitab Suci adalah kasih dan kasih tidak berbuat jahat kepada sesama manusia (Rm.13:10).
Bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional. Gereja mengajak umat untuk berkumpul merenungkan Sabda Tuhan bersama-sama. Kitab Suci adalah inspirasi semangat rekonsiliasi. Sabda-Nya tidak hanya menyembuhkan luka batin, tetapi juga merekatkan persaudaraan dalam komunitas para pengikut Kristus. Mari kita berkumpul membedah Kitab Suci, mendengarkan Sabda-Nya, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan menggereja, sekaligus menyadari kehadiran-Nya secara nyata di tengah-tengah kita. Selamat memasuki Bulan Kitab Suci. [BW]




