
Bacaan I : Yer. 20:7-9; Bacaan II :; Rm. 12:1-2;
Bacaan Injil:. Mat. 16:21-27.
MEMIKUL SALIB BERSAMA YESUS
Ada seorang bapak yang baik hati, suka menolong, juga aktif dalam berbagai pelayanan di gereja. Suatu hari kemalangan datang dalam hidupnya sampai menghancurkan hatinya. Bapak ini kecewa dan sedih. Di dalam doanya dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa aku? Bukankah selama ini aku sudah berusaha melayani-Mu dan berbuat baik kepada orang lain?”
Ketiga bacaan hari ini menyampaikan rangkaian pesan yang mengingatkan kita yang punya komitmen dalam mewartakan kabar sukacita dalam bermacam aktivitas.
Bacaan pertama berkisah tentang sisi kemanusiaan Nabi Yeremia yang sedang bergumul dengan panggilannya. Ia mengalami ejekan, penolakan, dan penderitaan karena menyampaikan firman TUHAN. Hal ini membuatnya tidak mau lagi berbicara atas nama-Nya. Namun Yeremia menyadari bahwa ternyata firman TUHAN tidak dapat dipendam di dalam hati. Yeremia tidak sanggup menahannya dan melukiskannya sebagai api yang menyala-nyala (Yer. 20:9).
Api penderitaan demi kebenaran yang dialami Yeremia ditegaskan secara radikal oleh Yesus di dalam bacaan Injil hari ini. Setelah menegor perilaku Petrus, Yesus menyampaikan pesan kepada para murid-Nya: "Jika seseorang mau menjadi pengikut-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Sebab siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mat. 16:24-25)
Lalu bagaimana para pengikut Kristus dapat menyangkal diri dan memikul salib di tengah zaman yang serba digital? Apa yang disampaikan Rasul Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Roma yaitu berupa ajakan untuk menjadikan seluruh hidup—tubuh, pikiran, waktu, dan karya mereka—sebagai kurban yang hidup merupakan jawaban praktis. Ini tentu berbeda dengan kurban dalam Perjanjian Lama yang disembelih dan mati di atas mezbah, kurban kita adalah hidup sehari-hari yang terus-menerus dipersembahkan bagi Allah.
Kembali kepada kisah si bapak, dalam pergumulannya dia teringat perkataan Yesus yang mengajak para murid untuk menyangkal diri dan memikul salib. Perlahan doanya berubah “Tuhan, jika ini adalah salib yang harus kupikul, berikan aku kekuatan untuk menjalaninya bersama-Mu.”
Menjadi pengikut Yesus berarti berani menyangkal diri, berani melepaskan keinginan untuk selalu mengatur hidup menurut kehendak sendiri. Memikul salib berarti berani menjalani penderitaan, kesulitan, kekecewaan dan tanggung jawab hidup dengan iman. Salib bukan sesuatu yang harus dicari, tetapi ketika salib itu datang, seorang pengikut Kristus tidak melarikan diri dari-Nya. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang menanti di balik salib.Tetapi kita tahu satu hal: jika kita berjalan bersama Yesus, kita tidak pernah berjalan sendirian. [ST]




