
Bacaan I : 1Raj. 19:9a,11-13a; Bacaan II : Rm. 9:1-5;
Bacaan Injil: Mat. 14:22-33.
MENATAP YESUS DI TENGAH GELOMBANG DAN KESUNYIAN
“Pak, kalau lampu mati dan sinyal hilang tengah malam, apa yang harus saya lakukan?” tanya seorang teknisi muda yang baru bertugas menjaga ruang server. Jawaban seniornya sederhana: “Jangan panik. Cek satu per satu, percaya sistem ini dirancang untuk bertahan.” Kepanikan sering membuat orang salah menekan tombol, bukan karena masalahnya besar, tetapi karena rasa takut mengambil alih akal sehat.
Injil hari ini mengisahkan Yesus berjalan di atas air menghampiri perahu murid-murid-Nya yang diterpa angin sepanjang malam. Petrus berhasil berjalan di atas air, selama pandangannya tertuju pada Yesus. Begitu beralih memandang gelombang, ia mulai tenggelam (Mat 14:30). Petrus tenggelam karena ketakutannya sendiri, bukan karena air.
Bacaan pertama menghadirkan gambaran yang selaras. Elia yang lelah dan putus asa mencari Allah di Gunung Horeb, menyaksikan angin besar, gempa bumi, dan api, namun Tuhan tidak hadir di dalamnya. Tuhan justru datang dalam “angin sepoi-sepoi basa” (1Raj 19:12), dalam kesunyian yang halus dan mudah terlewatkan. Sama seperti Petrus yang harus berhenti melihat angin dan menatap Yesus, Elia harus berhenti mencari Tuhan dalam kegaduhan dan belajar mendengar-Nya dalam keheningan.
Bacaan kedua dari Surat Roma memperlihatkan sisi lain dari iman yang bergumul. Paulus menulis dengan hati “sangat sedih” dan “berdukacita tak putus-putusnya” (Rm. 9:2) demi bangsanya sendiri, yang memiliki keistimewaan rohani namun belum menerima Kristus. Kesedihan itu bukan tanda iman lemah, melainkan tanda kasih yang dalam. Iman sejati tidak berarti bebas dari kekhawatiran, melainkan mampu tetap berpengharapan sambil menanggung beban itu.
Ketiga bacaan ini bertemu pada satu falsafah hidup yang utuh: Elia mengajarkan Tuhan hadir dalam keheningan, bukan kegaduhan yang kita ciptakan untuk menutupi rasa takut; Paulus mengajarkan bahwa kasih sejati kadang berjalan seiring kesedihan; dan Petrus mengajarkan bahwa iman bukan ketidak-hadiran badai, melainkan keberanian menatap Yesus di tengahnya.
Dalam hidup sehari-hari, badai kita bisa berwujud tekanan pekerjaan, hubungan keluarga yang menegang, atau ketidakpastian masa depan. Seperti Petrus, kita mulai dengan langkah percaya, namun begitu angin terasa nyata, kita menoleh dan mulai tenggelam dalam kekhawatiran. Pertanyaan yang layak kita endapkan bukanlah “mengapa masih ada gelombang,” melainkan “ke mana mataku tertuju ketika gelombang itu datang.”
Hari ini kita diajak berhenti dari kebisingan hidup, mencari “angin sepoi-sepoi basa” itu, momen keheningan bersama Tuhan, lalu berjalan kembali menghadapi gelombang, sambil menatap Dia yang selalu mengulurkan tangan-Nya lebih dahulu daripada kita meraihnya. [KRS]




