
Bacaan I : Yes. 55:1-3; Bacaan II : Rm. 8:35,37-39;
Bacaan Injil: Mat. 14:13-21.
PENYELENGGARAAN-NYA YANG TIDAK TERBATAS
Seorang pastor menceritakan pengalaman ketika melayani di sebuah pedalaman. Suatu hari, ia mengunjungi seorang janda tua yang tinggal di rumah bambu yang sangat sederhana. Rumahnya hampir kosong. Di dapur hanya ada sedikit beras, beberapa butir telur, dan sedikit garam. Pastor bertanya, "Ibu, apakah persediaan makanan ini cukup untuk beberapa hari ke depan?" Sang ibu tersenyum dan menjawab,"Kalau dihitung dengan logika, mungkin hanya cukup dua hari. Tetapi saya sudah puluhan tahun hidup bersama Tuhan. Saya belajar bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan lumbung saya kosong." Pastor itu terdiam.
Beberapa hari kemudian, ada tetangga yang datang membawa sayur dari kebunnya. Hari berikutnya ada umat yang mengantar beras karena merasa "tergerak" untuk berbagi. Minggu berikutnya anaknya yang bekerja di kota mengirim sedikit uang. Bukan berarti ibu itu menjadi kaya. Namun ia tidak pernah benar-benar kekurangan. Ia hidup dengan keyakinan bahwa Allah selalu menyediakan pada waktu-Nya.
Makna kisah di atas terinspirasi dari ketiga bacaan hari ini. Bacaan pertama hari ini (Yes 55:1-3), Allah mengundang: “Hai semua yang haus, marilah...” Kisah ibu tadi datang kepada Tuhan bukan karena ia memiliki banyak, tetapi justru karena ia sadar dirinya membutuhkan Tuhan setiap hari. Ia percaya bahwa rezeki terbesar bukanlah isi dompet, melainkan penyelenggaraan Allah.
Dalam bacaan kedua (Rm 8:35, 37-39), Rasul Paulus berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah." Kasih Allah bukan berarti hidup tanpa kesulitan. Kasih Allah berarti Tuhan tetap hadir di tengah kesulitan itu. Ibu tersebut mungkin tidak pernah memiliki tabungan besar, tetapi keyakinan bahwa ia tidak pernah berjalan sendirian.
Sementara dalam bacaan Injil hari ini (Mat. 14:13-21) kita semua membayangkan bagaimana lima roti dan dua ikan tampak sangat sedikit untuk memberi makan orang banyak. Tetapi ketika diserahkan kepada Yesus, semuanya berubah menjadi kelimpahan. Begitu pula ibu tadi, yang ia miliki sangat sedikit. Namun karena imannya, maka Tuhan senantiasa mencukupkan melalui banyak orang. Mukjizat tidak selalu berupa roti yang tiba-tiba berlipat ganda. Kadang mukjizat hadir melalui orang-orang yang Tuhan kirim pada saat yang tepat.
Hari-hari belakangan ini mungkin kita juga sedang membawa "lima roti dan dua ikan" dalam hidup kita. Penghasilan berkurang, bergumul dengan kesehatan, cemas menghadapi masa depan dan lain sebagainya. Sabda Tuhan hari ini tidak menjanjikan hidup tanpa persoalan tetapi penyelenggaraan-Nya yang tanpa batas. Ketika keterbatasan kita diserahkan kepada Yesus, Dia sanggup mengubahnya menjadi berkat yang jauh melampaui perhitungan manusia. Semoga ketika kita pulang dari Perayaan Ekaristi hari Minggu ini, iman kita disegarkan: Apa pun yang sedang kita hadapi, Tuhan tidak pernah terlambat menolong. Mungkin persediaan kita terbatas, tetapi penyelenggaraan Tuhan tidak pernah terbatas. Amin. [LAS]




