
Bacaan I : Kis. 10:34a,37-43; Bacaan II : Kol. 3:1-4;
Bacaan Injil: Yoh. 20:1-9.
DARI KERAGUAN MENUJU IMAN YANG MENGHIDUPKAN
Seorang anak kecil berkata kepada ayahnya, “Aku percaya ayah sayang aku, tapi kadang aku ragu kalau ayah sedang marah.” Sang ayah lalu memeluk anaknya sambil menunjukkan bekas luka di tangannya akibat bekerja keras demi keluarga. “Luka ini tanda cintaku,” katanya. Seketika, keraguan si anak berubah menjadi kepercayaan. Kisah sederhana ini membantu kita memahami pengalaman iman para murid, khususnya Tomas, dalam Injil hari ini.
Hari ini adalah Hari Minggu Paskah II, yang juga dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi, mengajak kita merenung bagaimana Yesus yang bangkit menuntun para murid-Nya dari ketakutan dan keraguan menuju iman yang hidup dan penuh pengharapan. Ini tampak dalam bacaan Injil (Yoh. 20:19-31) yang memperlihatkan wajah kerahiman Ilahi secara sangat personal. Setelah bangkit Yesus datang menemui para murid yang ketakutan dan terkurung. Ia tidak menegur atau menghukum, melainkan menyapa mereka dengan salam damai dan menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Bahkan kepada Tomas yang tadinya meragukan kebangkitan Sang Guru, Yesus menunjukkan luka-luka-Nya, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk meneguhkan iman.
Berkat peneguhan Yesus kepada para murid maka kita melihat gambaran indah jemaat perdana (Kis. 2:42-47). Mereka tekun dalam pengajaran para rasul, hidup dalam persekutuan, memecahkan roti, dan berdoa. Ini adalah buah dari kebangkitan Kristus yang tampak jelas dalam hidup mereka: persaudaraan yang tulus, kepedulian satu sama lain, dan semangat berbagi. Kehidupan bersama ini bukan sekadar organisasi sosial, melainkan tanda nyata bahwa Roh Kudus bekerja dan kerahiman Allah mengalir melalui relasi antarumat.
Sementara itu dalam bacaan Kedua (1Ptr. 1:3-9) Rasul Petrus mengingatkan bahwa meskipun kita belum melihat Kristus secara fisik, kita tetap mengasihi-Nya dan bersukacita karena iman. Sukacita ini bukanlah sukacita semu, melainkan sukacita yang lahir dari keyakinan bahwa keselamatan adalah anugerah kerahiman Allah. Iman yang diuji oleh berbagai kesulitan justru memurnikan dan meneguhkan hubungan kita dengan Tuhan.
Pada perayaan Kerahiman Ilahi ini, kita diundang untuk percaya bahwa Tuhan hadir di tengah ketakutan, keraguan, dan kelemahan kita. Kerahiman-Nya memulihkan, menguatkan, dan mengutus kita untuk menjadi saksi kasih-Nya. Seperti jemaat perdana, kita dipanggil untuk menghadirkan wajah Gereja yang penuh belas kasih; seperti Tomas, kita diajak beralih dari ragu menjadi percaya. Sebab berbahagialah kita yang tidak melihat, namun tetap percaya, dan hidup dalam kerahiman Tuhan. [LAS]




