
Bacaan I : Yes. 50:4-7; Bacaan II : Flp. 2:6-11;
Bacaan Injil: Mat. 26:14;27:66.
CERMIN SIKAP HIDUP
Setiap orang mempunyai tantangan yang berbeda di sepanjang hidupnya. Demikian pula dengan Yesus. Dia mengalami pengkhianatan, fitnah dan kekejian yang bertubi-tubi seperti dalam bacaan Injil hari ini. Tetapi Yesus memilih untuk tetap menjalaninya dengan setia karena percaya kepada penyertaan Bapa.
Bacaan pertama mengisahkan tentang nubuat Nabi Yesaya mengenai seorang hamba yang taat meski harus menderita. Hamba ini memiliki keteguhan hati seperti gunung batu, karena Dia tahu bahwa Dia tidak akan mendapat malu (Yes 50:7). Sosok hamba ini menjadi gambaran nyata tentang Yesus Kristus, yang rela menderita demi keselamatan manusia. Keyakinan akan adanya pertolongan Bapa menjadi kekuatan yang luar biasa dalam menjalani misi penebusan dosa manusia.
Dalam bacaan Injil hari ini penulis menampilkan para tokoh dengan berbagai sikap yang bertolak belakang dengan sikap Yesus. Yudas Iskariot menjadi gambaran manusia yang menolak kehadiran Allah hidupnya. Dia menyerahkan Yesus dengan upah tiga puluh uang perak (Mat.26:15) Petrus memperlihatkan keyakinan akan kemampuan diri sendiri dengan mengatakan “Sekalipun aku harus mati bersama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (26:35). Di luar lingkaran Yesus dan para pengikut-Nya ada seorang Pilatus yang memilih untuk mencari keselamatan diri, dengan mengambil air membasuh tangannya (27:24). Para ahli Taurat dan tua-tua yang mengolok-olok Yesus saat di kayu salib (27:41) menjadi contoh lain bagaimana manusia selalu cenderung mencari bukti yang jelas, daripada hidup dalam iman kepada Allah.
Sementara itu, dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Paulus menguraikan sosok Yesus dalam kodrat-Nya sebagai Allah dan manusia, justru memperlihatkan teladan hidup yang sebaliknya. Yesus rela melepaskan hak-hak Ilahi-Nya demi pemberesan dosa manusia (Flp 2:6). Paulus menyebut Yesus “mengosongkan diri-Nya sendiri” (2:7), ini bukan berarti Yesus kehilangan keilahian-Nya, tetapi menanggalkan hak istimewa-Nya demi solidaritas-Nya kepada manusia. Ketaatan-Nya kepada Bapa dibawa sampai menyerahkan nyawa di kayu salib, sebuah lambang hukuman yang hina dan sekaligus pengorbanan yang besar (2:8).
Minggu Palma menjadi awal yang baik bagi kita untuk melakukan refleksi mendalam atas penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, Anak Allah. Seruan kepada Bapa-Nya di atas kayu salib, menjadi bukti akan keyakinan-Nya yang teguh, bahwa di tengah penderitaan yang dialami-Nya, tidak sedikitpun Dia ragu akan kehadiran Bapa yang selalu menolong-Nya. Di sisi lain, Minggu Palma juga mengajak kita untuk bercermin akan sikap hidup kita, apakah kita memiliki keteguhan hati seperti Yesus. Ataukah kita masih berlaku seperti salah satu dari tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh penulis Injil yang dengan bermacam cara menolak kehadiran Yesus dalam hidup kita. Selamat memasuki Pekan Suci! [LS]




