
Bacaan I : Yes. 11:1-10; Bacaan II : Rm. 15:4-9;
Bacaan Injil: Mat. 3:1-12.
MENUNGGU DENGAN HARAPAN
Masa Adven selalu membawa kita dalam suasana penantian. Adven adalah waktu untuk melihat kembali hidup kita, lalu membuka ruang bagi Tuhan yang datang. Tiga bacaan hari ini memberi kita tiga wajah dari harapan: harapan yang bertumbuh, harapan yang menguatkan, dan harapan yang mengubah hati.
Bacaan pertama dari kitab nabi Yesaya mengajak kita untuk melihat tunas kecil yang tumbuh dari tunggul Isai. Dalam pandangan manusia, tunggul itu seperti simbol kegagalan: pohon yang sudah ditebang, masa depan yang seakan hilang. Tapi Tuhan justru memulai karya besar dari situ. Ini mengingatkan kita bahwa hidup yang tampak suram bisa menjadi tempat Tuhan menumbuhkan sesuatu yang baru. Gambaran damai antara serigala dan domba menunjukkan bahwa Tuhan ingin membawa pemulihan yang tidak mampu dilakukan oleh manusia. Kadang kita merasa hubungan retak, hati kacau, masa depan gelap. Tapi Tuhan berkata: “Aku bisa memulihkan.” Masa Adven mengajak kita untuk percaya bahwa harapan bukan cuma ide, tetapi sesuatu yang tumbuh pelan-pelan di dalam diri kita.
Sementara pada bacaan kedua St. Paulus menambahkan satu lapisan lagi. Dia menulis kepada jemaat di Roma bahwa Kitab Suci ada supaya kita kuat, sabar, dan memiliki penghiburan. Paulus juga mengingatkan bahwa Kristus datang untuk semua orang—baik Yahudi maupun bangsa-bangsa lain. Artinya, tidak ada yang dikecualikan dari kasih Tuhan.Kalau Tuhan membuka tangan-Nya kepada semua orang, kita juga dipanggil untuk membuka hati kepada mereka yang berbeda dari kita.
Bacaan Injil mempertegas bahwa pengharapan yang pasif bukanlah panggilan Adven. Suara Yohanes Pembaptis di padang gurun menantang kita dengan keras: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:2). Suaranya keras, tetapi tujuannya baik: membersihkan jalan supaya Tuhan bisa masuk. Pertobatan bukan berarti hidup jadi sempurna, tapi berani menata ulang langkah-langkah kecil dalam keseharian. Kadang kita perlu berhenti sejenak, melihat apa yang membuat hati keras, apa yang membuat kita jauh dari Tuhan, lalu perlahan melepaskannya.
Ketika tiga bacaan ini disatukan, kita melihat sebuah alur: Tuhan menumbuhkan harapan (Yesaya), Tuhan menguatkan kita dalam menunggu (Roma), dan Tuhan mengajak kita menyiapkan hati (Matius). Adven menjadi waktu untuk percaya bahwa tunas kecil itu akan tumbuh, firman akan menguatkan kita, dan hati yang mau berubah akan membawa kita lebih dekat kepada Yesus—Dia yang kita tunggu dengan penuh sukacita. Mari kita menantikan kedatangan-Nya dengan penuh harapan. [APU]




