
Bacaan I : Mrk. 11:1-10; Bacaan II : Yes. 50:4-7;
Bacaan Injil : Mrk. 14:1-15,47.
HATI SEORANG HAMBA
Minggu ini kita memasuki Pekan Suci, yang dimulai dengan Minggu Palma di mana Gereja secara khusus mengajak umat untuk merenungkan misteri penebusan dan keselamatan dunia serta mengenang sengsara Tuhan Yesus.
Minggu Palma merupakan kisah di mana Yesus masuk ke Yerusalem dengan menaiki seekor keledai. Penduduk Yerusalem menyambut-Nya seperti menyambut seorang Raja yang sangat dinanti-nantikan. Jalan masuk ke kota semarak dengan orang-orang yang melambai-lambaikan daun palma. Mereka penuh sukacita dan bersorak “Hosana! diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, terpujilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" (Mrk 11:9-10). Benar, orang Yahudi mengharapkan kembalinya kejayaan kerajaan mereka seperti zaman Daud. Namun Yesus tidak datang untuk itu.
Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya seperti hendak memperjelas maksud kedatangan seorang hamba TUHAN ke dunia. Dia adalah sosok yang penuh dengan ketaatan, tidak seperti Israel yang berulang kali menduakan TUHAN. Hamba ini datang untuk memberi semangat kepada mereka yang letih lesu (Yes 50:4). Namun Dia juga harus menanggung kebencian orang dan mengalami siksaan dan hinaan. Tetapi di balik semua itu Allah berada di pihak-Nya.
Sementara itu, kepada jemaat di Filipi Rasul Paulus mengajarkan bahwa Yesus yang memiliki kesetaraan dengan Allah, justru meninggalkannya dan menjadi seorang hamba. Dia bukan hanya telah merendahkan diri-Nya, namun juga memberikan diri sebagai kurban penebusan dosa-dosa manusia. Dia adalah teladan ketaatan sejati, maka dalam Fil 2:5, Rasul Paulus pun menulis“ Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Sebuah nasihat yang tidak hanya berlaku bagi jemaat Filipi namun juga bagi seluruh pengikut-Nya tanpa batasan ruang dan waktu.
Retret agung kita akan memasuki puncaknya di Pekan Suci ini. Ketiga bacaan hari ini berkisah bagaimana sosok Putera Allah yang memiliki hati seorang hamba. Lebih lanjut, sesuai teladan yang diberikan-Nya, apakah kita telah memiliki pikiran, perasaan, dan perilaku seperti Kristus dalam melaksanakan tugas pelayanan kita? Apakah kita yang telah diberi lidah, telah menggunakannya untuk memberi semangat kepada mereka yang letih lesu? Dan telinga untuk mendengarkan suara-Nya?
Mari kita memasuki Pekan Suci dengan segala kerendahan hati sesuai dengan teladan Kristus sendiri. Tuhan memberkati. –MDR- Terima kasih kepada @dwiwirawan23 yang telah menulis renungan ini.




