
Bacaan I : Yer. 31:31-34; Bacaan II : Ibr. 5:7-9;
Bacaan Injil : Yoh. 12:20-33.
PRIBADI YANG BARU DAN BERBUAH
Di Gunung Sinai Allah memberikan Sepuluh Firman kepada bangsa Israel melalui Nabi Musa. Firman ini sejatinya adalah untuk ditaati, tetapi pada kenyataannya kesepuluh Firman Tuhan itu tetap dilangggar. Israel berbuat jahat, termasuk kejahatan yang sangat tidak disukai Allah yaitu menyembah berhala alias menduakan diri-Nya. Israel harus menanggung akibat perbuatan-perbuatannya, yaitu dikuasai oleh bangsa-bangsa asing dan mengalami pembuangan dari tanah terjanji. Tetapi kasih Allah begitu besar kepada bangsa pilihan-Nya. Dia menginginkan supaya mereka mengalami perubahan dengan menerima perjanjian yang baru. Allah akan “..menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”
Dalam bacaan Injil, Yohanes menulis bagaimana Yesus rela menjalani penderitaan hingga wafat di kayu Salib. Kematian-Nya tidaklah sia-sia seperti yang dikatakan-Nya dalam kalimat perumpamaan “Aku berkata kepadamu sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh kedalam tanah dan mati ia tetap sebiji, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12 : 24). Yesus adalah biji gandum yang jatuh kedalam tanah dan mati. Kematian-Nya menghasilkan banyak buah yaitu jiwa-jiwa yang diselamatkan. Hidup-Nya juga menghasilkan teladan yang menghasilkan kebaikan dan kasih bagi dunia yang dicintai-Nya ini.
Berbeda dengan Israel yang tidak taat kepada Allah, Yesus adalah teladan ketaatan bagi para pengikut-Nya. Bukan hanya itu, sebagai Anak, Yesus adalah sumber keselamatan bagi siapa saja yang taat pada-Nya seperti yang disampaikan oleh penulis surat Ibrani dalam bacaan kedua.
Allah menginginkan Israel yang baru. Israel yang taat kepada-Nya. Israel yang meninggalkan ketidaksetiaannya. Masa Prapaskah merupakan saat yang tepat untuk merenungkan apakah kita menyadari ketidaksetiaan kita kepada Allah, mengulangi kesalahan sama dan hidup dengan keduniawian dan keegoisan kita? Sepatutnya kita selalu bersyukur kepada Tuhan Yesus atas segala pengorbanan-Nya dan sebagai umat tebusan-Nya kitapun harus mengikuti jejak Yesus yaitu hidup yang menghasilkan buah. Sudah siapkah kita menjadi pribadi yang baru dan berbuah? Tuhan memberkati.-MDR- Terima kasih kepada @dwiwirawan23 yang telah menulis renungan ini.




