
Bacaan I : Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18 ; Bacaan II : Rm. 8:31b-34;
Bacaan Injil: Mrk. 9:2-10.
TRANSFIGURASI PRIBADI
Minggu ini kita memasuki Minggu Prapaskah yang kedua. Bacaan Injil mengambil sebuah peristiwa penting yaitu Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung atau dikenal dengan peristiwa Transfigurasi. Transfigurasi merupakan sebuah peristiwa dramatis atas kemuliaan yang dimiliki oleh Yesus Anak Tunggal Allah yang harus ditaati. Selain Yesus, ada dua tokoh Perjanjian Lama di dalam peristiwa transfigurasi yaitu Musa sebagai wakil bangsa Israel yang naik ke gunung dan menerima Sepuluh Firman Tuhan (Dekalog). Tokoh penting lainnya adalah Elia yang mewakili dari para nabi Israel. Menariknya, dua tokoh ini mengalami akhir hidup yang misterius. Musa wafat namun mayatnya disembunyikan Tuhan alias tidak diketemukan, sementara Elia terangkat ke surga dengan mengendarai kuda api dalam angin badai. Keduanya mengalami kemuliaan surgawi.
Peristiwa transfigurasi yang menyandingkan Yesus dengan kedua tokoh yang sangat dihormati orang Israel ini meneguhkan kemesiasan-Nya (Mrk 8:29) dan bagaimana Dia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk 8:31). Bukan suatu yang mudah mendengar tutur bahwa Putera Allah yang menderita dan tampak lemah. Para murid waktu itu tentu menginginkan sosok Putera Allah yang mahakuasa, yang dapat membawa Israel kembali kepada kejayaannya. Karena itu, tiga murid yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes, yang kemudian dikenal sebagai rasul-rasul utama, terpilih menjadi saksi akan kemuliaan-Nya. Mereka menyaksikan Yesus menyatakan realitas kodrat ilahi-Nya yang dilambangkan dengan pakaian-Nya yang putih berkilauan. Kemuliaan itu, yang juga akan menjadi realitas eskatologis kita, dapat dimaknai sebagai penyemangat bagi para murid yang pada suatu hari akan mencapai juga realitas yang sama.
Terlepas dari semua keagungan yang disaksikan oleh ketiga murid tadi, Yesus memerintahkan kepada mereka untuk merahasiakan peristiwa itu sampai Ia bangkit dari antara orang mati. Ini menyoroti kerahasiaan rencana penyelamatan Allah, dan menunjukkan waktunya akan tiba untuk mewartakan kejadian ini adalah setelah kematian dan kebangkitan Yesus.
Peristiwa transfigurasi mengajarkan tentang pentingnya memiliki pengalaman pribadi dengan Yesus khususnya pada masa Prapaskah ini. Meskipun kita tidak mungkin mengalami pengalaman seperti para murid di gunung, namun kita dapat mengalami transfigurasi pribadi dengan Yesus melalui doa, berpantang, berpuasa, membaca dan merenungkan Kitab Suci. Dengan demikian, iman yang telah ditaburkan ke dalam hati kita, dapat tumbuh dan berkembang sehingga kitapun semakin taat dan mengikuti-Nya setiap hari. Sudahkah pantang dan puasa anda membawa anda lebih intim dengan-Nya? (CL)




