
Bacaan I : Yes. 25:6-10a; Bacaan II : Flp. 4:12-14,19-20;
Bacaan Injil : Mat. 22:1-14.
MEMANTASKAN DIRI
Perjamuan merupakan suatu keadaan yang tidak sekedar makan-minum tetapi juga ada unsur sukacita. Ada tuan rumah yang mengundang dan menyediakan segala hidangan di suatu tempat yang nyaman. Tamu-tamu berdatangan dengan riang. Itulah yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya pada bacaan pertama. Gunung Sion adalah tempat yang disediakan oleh TUHAN semesta alam bagi seluruh bangsa untuk bersukacita. Ada perjamuan dengan hidangan masakan yang lezat, dan minuman anggur yang tua yang disaring endapannya. Tidak ada kesedihan, hanya ada sukacita sehingga orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan.. (Yes 15:9)
Dalam bacaan Injil, Yesus menegaskan nubuat Yesaya sesuai dengan kondisi perjalanan bangsa Israel, melalui sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Sorga di mana seorang raja mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Raja itu mengundang siapa saja yang Ia kehendaki dalam perjamuan bersama-Nya. Namun mereka tidak mau datang dengan bermacam alasan padahal hidangan telah disiapkan. Celakanya hamba-hamba raja tersebut dibunuh sehingga membuat raja itu marah dan mengirim pasukan untuk membinasakan mereka. Akhirnya raja itu memerintahkan hamba-hambanya untuk mengundang semua yang dijumpai di jalan agar memenuhi tempat pestanya. Namun ada satu yang tidak mengenakan pakaian pesta dengan baik. Dia diusir dari tempat pesta, walaupun undangannya gratis bukan berarti para tamu boleh berbusana semaunya sendiri. Setiap tamu harus memiliki dorongan dari dalam hati untuk memantaskan diri sebagai tamu yang layak. Injil hari ini memberikan peneguhan kepada kita bahwa Allah selalu menawarkan kebaikan cinta-Nya bagi kita semua untuk mengalami Kerajaan Sorga, tidak dipaksakan, tergantung setiap pribadi menanggapinya. Sayangnya tidak semua orang menerima kebaikkan-Nya itu.
Lalu bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadiri undangan pesta dari Sang Raja? Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, rasul Paulus menasihatkan bahwa dia percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan. Dia mengimani bahwa Allah memberinya kekuatan dalam menjalani hidup pelayanannya. Rasul Paulus mengalami berbagai keadaan, baik berkelimpahan maupun berkekurangan. Semuanya itu telah menempa Rasul Paulus untuk meletakkan pengharapan dan sukacitanya hanya kepada Tuhan saja, dan tidak bergantung kepada hikmat dan kekuatannya sendiri.
Sudahkah kita bersiap memantaskan diri untuk menanggapi undangan pesta perkawinan dari Sang Raja? (/rw).




