
Bacaan I : Kel. 34:4b-6,8-9; Bacaan II : 2Kor. 13:11-13;
Bacaan Injil : Yoh. 3:16-18.
ALLAH YANG TIDAK TERPAHAMI
Tegar tengkuk adalah istilah yang dikenakan pada orang yang keras kepala dan tidak mau menurut. Begitulah kondisi bangsa Israel yang waktu itu berada di bawah pimpinan Musa, keluar dari Mesir menuju tanah terjanji. Sebagai pimpinan, Musa memohon ampunan bagi bangsanya yang tegar tengkuk itu dan meminta penyertaan Allah di tengah-tengah mereka. Mengapa Musa memohon demikian pada-Nya? Karena Musa tahu bahwa Dia adalah Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya. Sifat Allah yang pengasih dan penyayang ini telah menjadi kesaksian iman dari masa ke masa.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes mengungkapkan kesaksiannya mengenai kasih Allah ini demikian “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal“ [Yoh 3:16]. Ini adalah satu dari sekian banyak kesaksian Yohanes bahwa Yesus adalah sungguh Anak Allah. Di awal Injilnya, Yohanes menulis bahwa Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia sebuah inisiatif dari Allah agar manusia dapat bertatap muka dengan-Nya.
Setelah pada hari Minggu lalu, Gereja merayakan Pentakosta, maka hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus untuk mengingatkan kembali bahwa Allah tidak pernah berhenti untuk mengasihi manusia. Upaya-Nya ditunjukkan dengan inkarnasi-Nya dalam diri Yesus dan penyertaan-Nya melalui Roh Kudus. Tritunggal menjadi perdebatan selama berabad-abad. Ada yang mempertanyakan dan ada pula yang berusaha keras mencari jawaban. Namun semakin dipikirkan semakin menimbulkan banyak pertanyaan, seperti minum air laut yang semakin banyak diminum akan semakin menimbulkan rasa dahaga.
Tritunggal Mahakudus hanya perlu diterima dengan iman dan kasih. Pikiran manusia yang sempit tidak akan mampu mencerna kebesaran-Nya. Kisah populer dari Santo Agustinus yang ditegur oleh seorang anak kecil di pinggir pantai karena mencoba memahami Trinitas adalah cermin bagi kita semua bahwa manusia tidaklah bisa memahami Allah. Menarik direnungkan apa yang disampaikan oleh Santo Agustinus dan dikutip di dalam Katekismus Gereja Katolik nomor 230: Walaupun Allah mewahyukan Diri, namun Ia tetap tinggal rahasia yang tidak terucapkan: "Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah " (Agustinus, serm. 52,6,16). Selamat merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. (CT).




