
Bacaan I : Kis. 1:12-14; Bacaan II : 1Ptr. 4:13-16;
Bacaan Injil : Yoh. 17:1-11a.
BERTEKUN DALAM DOA
Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, para murid dan Bunda Maria bertekun dan sehati dalam doa bersama. Mereka menantikan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan Yesus. Dengan berdoa, mereka tetap menjalin relasi dengan Tuhan Yesus meskipun Dia sudah tidak bersama dengan mereka secara fisik.
Doa juga menjadi topik utama dalam bacaan Injil hari ini. Penginjil Yohanes menulis bagaimana dan apa isi doa yang diucapkan Yesus sebelum penderitaan-Nya. Melalui perikop ini kita dapat membaca bahwa doa adalah relasi yang indah antara Anak dengan Bapa. Yesus menunjukkan betapa eratnya relasi-Nya dengan Bapa. Dalam doa-Nya itu Yesus mengatakan bahwa Dia telah memuliakan Bapa di bumi ini yaitu dengan cara menyelesaikan tugas yang diterima dari Bapa (Yoh 17:4). Yesus juga mendoakan murid-murid-Nya agar mereka selalu dalam pemeliharaan Allah Bapa karena mereka adalah kepunyaan Bapa (ay.9).
Setelah peringatan Kenaikan Tuhan Yesus, Gereja memasuki masa penantian akan peringatan perayaan Pentakosta. Meneladani para murid dan Bunda Maria, umat diajak berdoa mempersiapkan batin menanti perayaan kelahiran Gereja. Kita juga diajak untuk menjadi pendoa bukan hanya selalu berdoa untuk diri kita sendiri, melainkan bagi banyak orang. Dengan berdoa kita menjadi satu dengan sumber terang sejati yaitu Yesus itu sendiri, dan Roh Kudus yang akan memampukan kita untuk dapat berjalan sesuai dengan kehendak Bapa.
Mari kita tetaplah berdoa agar Roh Kudus itu hadir dalam diri kita, karena Dia adalah Roh yang akan membaharui dan menguatkan iman kita dalam menghadapi segala problematika hidup selama peziarahan di dunia ini. Oleh karena itu seperti apa yang dituliskan oleh rasul Petrus kepada jemaatnya “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu” (1Ptr 4:14). Maka sebagai para pengikut Kristus yang telah menerima Roh Kudus kita tetap memuliakan Allah sekalipun di dalam setiap peristiwa hidup kita. (MDR).




