
Bacaan I : Im. 19:1-2,17-18; Bacaan II : 1Kor. 3:16-23;
Bacaan Injil : Mat. 5:38-48.
MENJADI PRIBADI YANG EXTRAORDINARY
Bacaan Injil hari ini merupakan lanjutan dari bacaan minggu lalu mengenai Yesus dan Hukum Taurat, bagaimana sikap yang diharapkan oleh Yesus mengenai penerapan Hukum Taurat kepada para pengikutNya. Yesus menekankan sekali lagi esensi dari Hukum Taurat bukan hanya pada segala sesuatu yang nampak secara lahiriah, namun para pengikut Yesus harus bisa menjadi manusia yang luar biasa, memperhatikan sikap batin atau apa yang ada didalam hati dan pikiran manusia.
Dalam kehidupan, mencintai/mengasihi orang yang kita kasihi, memberikan sapaan, berbalas kasih merupakan hal yang biasa, yang juga dilakukan oleh orang berdosa (Luk. 6:32-33). Namun akan menjadi sangat sulit untuk mencintai/mengasihi orang yang telah menyakiti atau menyinggung perasaan kita. Sikap inilah yang dikehendaki Yesus kepada para murid untuk menjadi orang yang extraordinary.
Lalu bagaimana dengan perintah "Mata ganti mata dan gigi ganti gigi" (ay.38) yang ditulis pada kitab Keluaran 21:24? Pada masa itu, hukum diterapkan secara proposional, segala sesuatu diganti menurut kerugian yang ditimbulkan. Namun Yesus dengan antitesisnya menuntut agar tidak ada lagi balas dendam dan segala bentuk kekerasan. Bahkan Yesus ingin agar tidak melawan kekerasan dengan kekerasan, di mana segala bentuk mata rantai kekerasan harus dipatahkan dengan mengasihi musuh (ay. 43-48). Jika kita melakukan pembalasan dengan kekerasan maka kita juga telah berbuat sama jahatnya.
Dalam perikop ini Yesus juga mengajarkan kepada para murid agar membebaskan diri dari kehendak untuk "mengambil" hak milik orang. Jika mereka diminta menyerahkan pakaian, maka berikanlah dengan senang hati (ay. 40). Dengan demikian, memberi tanpa syarat akan keluar menjadi pemenang.
Kita sebagai pengikut Kristus diajak untuk mempunyai hati yang berbelas kasih, bebas dari segala bentuk kekerasan, permusuhan antar kelompok, dan saling menghujat di media sosial atau dalam lingkungan sekitar. Jadilah agen perdamaian dengan menebar cinta kasih Allah yang sudah kita terima dalam kehidupan. Kasihilah orang yang membenci dan yang telah menyakitkan hidup kita, maka dengan demikian kita semua akan menjadi anak-anak sejati Allah, Dia yang merangkul orang berdosa dalam naungan belas kasih-Nya. (CL).




