
Bacaan I : Sir. 15:15-20; Bacaan II : 1Kor. 2:6-10;
Bacaan Injil : Mat. 5:17-37.
Hakikat Hukum Taurat
Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan dari serangkaian ajaran Yesus akan Kotbah di Bukit. Kali ini Yesus berbicara dengan wibawa-Nya bahwa Ia tidak menggantikan atau mengabaikan hukum Taurat namun justru menggenapi atau menyempurnakannya. Penggenapan / penyempurnaan membutuhkan tuntutan sikap yang murni dari dalam hati agar bukan lagi dari segala yang nampak secara lahiriah.
Untuk menghindari salah pengertian, ada enam antitesis sebagai pernyataan dasar dari Yesus tentang berlakunya hukum Taurat (5:17-20). Pertama, Yesus mengutip hukum Taurat sambil bersabda,"..,Kamu telah mendengar.." (5:21,27,31,33,38,43), dan kemudian melanjutkan dengan refren, "tetapi Aku berkata kepadamu.."(5:22,28,32,34,39,44). Antitesis itu yakni tentang pembunuhan, dan amarah, perzinahan, perceraian, dan sumpah. Pola ini menekankan peran Yesus sebagai Musa baru dan pemberi hukum Perjanjian Baru. Dengan adanya antitesis ini, Yesus menekankan bahwa hukum Taurat tetap berlaku bahkan Dia mengukuhkan keabsahannya yang terus berlangsung bagi para murid-Nya dalam perspektif teologis yang baru. Yesus sedang mengajarkan kepada para pengikutnya untuk menafsirkan hukum Taurat secara benar, Sementara para ahli Taurat dan pemuka Yahudi menafsirkan hukum Taurat menurut perspektif mereka dan demi keuntungan mereka semata. Hukum Taurat dibuat untuk mendekatkan umat Israel kepada Allah. Namun justru banyak disalahtafsirkan demi memenuhi kepentingan pribadi ahli Taurat, dan orang Farisi.
Pada bacaan kedua, Rasul Paulus mengatakan secara tidak langsung kalau orang-orang Yahudi itu benar-benar mengenal dan mengasihi Allah, maka mereka tidak akan menyalibkan Tuhan Yesus. Karena kedegilan hati, mereka tidak bisa mengenali Yesus yang hadir sebagai pemenuhan dari hukum Taurat.
Penegasan Tuhan Yesus dalam injil hari ini pada intinya mengajak para murid untuk masuk ke dalam hakikat hukum Taurat. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”, demikian penegasan-Nya (Mat .7:12). Apa yang disampaikan Yesus bertujuan bahwa kasih merupakan hukum yang pertama dan utama dalam hukum Taurat. Lalu sudah sejauh manakah kita sebagai pengikut Kristus telah mewujudkan kasih yang merupakan hukum tertinggi dan inti dari hukum Taurat dalam pola kehidupan kita baik pikiran dan perilaku kita? (CL).




