
Bacaan I : Yes. 58:7-10; Bacaan II : 1Kor. 2:1-5; Bacaan Injil : Mat. 5:13-16.
Garam dan Terang
Bacaan Injil hari ini merupakan serangkaian ajaran Yesus yang oleh Matius dikategorikan dalam tema Kotbah di Bukit. Yesus naik ke bukit, seperti Musa naik ke Gunung Sinai. Ia dikisahkan menyampaikan pengajaran dengan posisi duduk sebagai perlambang sosok guru yang mempunyai otoritas penuh yang disahkan oleh Allah (5:1). Layaknya bangsa Israel yang menerima Taurat di Gunung Sinai (Kel. 19-24), para murid Yesus menerima ajaran Allah yang disampaikan oleh Yesus dari atas bukit.
Dalam pengajarannya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya "Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia" (ay 13-14). Yesus menggunakan simbolis untuk menunjukan kriteria dalam menghayati kehadiran, dan kesaksian mereka di dunia. Garam merupakan barang yang berfungsi untuk memberikan rasa dan mengawetkan makanan. Oleh karena itu, para murid dipanggil untuk meningkatkan mutu kehidupan umat manusia baik dalam pengetahuan, kepribadian dan tindakannya. Mereka diajak untuk menentang dosa, kemerosotan moral, memberikan kesaksian akan nilai kejujuran, tidak menyerah akan godaan duniawi. Di zaman digital ini ada banyak godaan di sekitar kita. Ada kalanya karena kelemahan manusiawi, kita jatuh ke dalam godaan. Yesus mengajak kita tetap mampu bangkit dan belajar kesalahan. Kita juga harus berani menyampaikan kebenaran seperti ajaran Yesus.
Selain garam, Yesus juga mengajak pengikut-Nya untuk menjadi pintu di mana terang masuk ke dalam dunia. Terang harus tampak, bukan disembunyikan. Memang kegelapan itu masih ada di sekitar kita semua, bahkan dalam pribadi kita masing-masing. Inilah tugas kita sebagai pengikut Kristus yaitu membuat terang Kristus bersinar dan senantiasa memberitakan kebenaran ajaranNya. Terang itu dapat bersinar dari seluruh perkataan kita, namun yang terpenting adalah dari "perbuatan baik" kita (ay. 16). Undangan Yesus ini mengajak kita semua sebagai umat Kristiani agar dapat mengarahkan sesama kepada terang Kristus, membantu sesama kita untuk mengalami kebaikan dan kemurahan hati Tuhan dengan tidak takut menghadapi hidup di dunia yang didalamnya masih terdapat berbagai macam pertikaian, dan dosa. Dengan demikian kita semua yang telah dimateraikan oleh rahmat baptisan dapat senantiasa menerangi dan menggarami sesama sehingga nama Allah semakin dimuliakan. (CL).




