
Bacaan I : Kel.32:7-11,13-14; Bacaan II : 1Tim.1:12-17; Bacaan Injil : Luk. 15:1-32
BERBELAS KASIH ADALAH KARAKTER KRISTIANI SEJATI
Karen Amstrong (2013) dalam bukunya “Compassion” menjelaskan bahwa “Berbelas kasih adalah menanggungkan bersama orang lain, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitaannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri dan secara murah hati masuk ke dalam sudut pandangnya”. Selanjutnya Georgina Barton & Susanne Garvis mendefiniskan berbelas kasih sebagai “emosi yang dialami seseorang ketika merasakan kepedulian terhadap penderitaan orang lain dan keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan orang tersebut”.
Injil hari ini, tidak saja mendefinisikan berbelas kasih tetapi juga menunjukkan bagaimana seorang Kristen bersikap berbelas kasih dan menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Ada tiga perumpamaan dalam injil hari ini. Perumpamaan pertama tentang domba yang hilang, kedua, tentang Dirham yang hilang, dan ketiga adalah anak yang hilang. Kita tentu bertanya, mengapa Yesus menyampaikan tiga perumpamaan sekaligus dalam pengajaran-Nya. Apa maksudnya? Dalam pengalaman hidup harian, kita menemukan bahwa penjelasan atau keterangan yang diulang-ulang biasanya mengandung pengertian bahwa pesan yang mau disampaikan itu penting sehingga dijelaskan dalam beberapa versi ceritera, supaya mudah dipahami. Latar belakang pengajaran Yesus hari ini adalah, bahwa Yesus sedang berhadapan dengan kelompok para pemuka agama yang memiliki persepsi berbeda tentang Allah. Allah yang mereka pahami dan hayati adalah Allah yang menghukum, dan Allah yang tidak menerima orang-orang berdosa. Orang berdosa, atau orang yang kurang beruntung hidupnya tidak ada tempat dalam masyarakat, maupun di surga. Atas persepsi yang salah inilah, maka Yesus mau mewartakan bahwa Allah itu adalah kasih dan karena itu Ia berbelas kasih kepada semua orang termasuk orang-orang berdosa, tersesat dan yang kehilangan arah hidupnya. Sifat Allah yang berbelas kasih itu digambarkan sebagai gembala yang berjuang mencari dombanya yang hilang, atau wanita yang mencari dirhamnya yang jatuh, atau juga sebagai bapa yang berbelas kasih, mengampuni dan menerima kembali anak bungsunya yang bertobat dan kembali ke pangkuannya. Yesus juga mau mewartakan bahwa Kasih dan berbelas kasih adalah hakekat ilahi Allah itu sendiri.
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen? Bunda Teresa dalam wejangan kepada pengikutnya menyatakan bahwa ukuran atau bukti dari berbelas kasih itu tidak ada pada perkataan atau kotbah, melainkan terletak pada tindakan dan perbuatan nyata. Tindakan dan perbuatan nyata itu hadir dalam sikap hidup yang didasarkan pada tiga kata kunci yaitu melihat, tergerak dan bertindak. Semuanya diawali dengan melihat. Yaitu melihat orang lain dalam keunikan dan martabatnya, lalu tergerak hati untuk membuka diri pada orang, sehingga kita membiarkan orang lain tersebut masuk dalam hati kita, yang selanjutnya mendorong kita untuk bertindak, dengan melakukan suatu tindakan nyata. Itulah karakter berbelas kasih kristiani sejati yang harus menjadi habitus setiap orang termasuk kita yang mengaku diri sebagai orang Kristen. (LN).




