
Bacaan I : Keb. 9:19-18; Bacaan II : Flm. 9b-10,12-17; Bacaan Injil : Luk. 14:25-33.
MEMUPUK SEMANGAT MELEPASKAN DEMI YESUS
Seorang karabat keluarga yang sekarang berumur 80 tahun pernah berceritera, bahwa dulu, ketika dia berumur dua puluh tahun, ada tawaran kepadanya supaya masuk tentara. Ada utusan dari Kodim datang ke desa, mencari para pemuda yang bersedia masuk menjadi tentara. Bapak ini ingin sekali menjadi seorang tentara saat itu tetapi tidak mendapat restu dari ibu dan neneknya. Ibu dan neneknya berpendapat bahwa masuk tentara itu nanti ikut perang dan kamu akan mati ditembak musuh. Dan lagi, kalau kamu masuk tentara, siapa yang akan kerja kebun, siapa yang akan menggembalakan sapi. Bapak ini taat dan ikut keinginan orangtuanya, tetapi hidupnya tidak berubah, tetap petani dan gembala sapi. Ceritera ini hanyalah gambaran bagi kita bahwa budaya dan kelekatan pada keluarga dapat menghambat seseorang untuk maju dan meraih sukses dalam hidupnya.
Demikian juga pengalaman Yesus dengan orang-orang Yahudi. Sistem kekerabatan keluarga dan agama yang begitu kental dalam diri orang Yahudi menjadi tantangan bagi pewartaan Yesus. Yesus mengalami sendiri bagaimana kelekatan keluarga dan budaya berujung pada kebencian dan penolakan dari para pemuka Yahudi kepada-Nya. Dalam konteks budaya Yahudi seperti inilah Yesus berkata bahwa "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Kata “membenci” disini bukanlah seperti yang kita pahami secara umum, tetapi punya arti berani melepaskan diri dari ikatan budaya dan kelekatan keluarga yang membelenggu kita sehingga kita tidak bisa bergerak maju dalam hidup beriman. Karena itu orang yang mengikuti Yesus harus siap untuk dikucilkan dan di singkirkan dari komunitas kekerabatan keluarga dan juga budaya. Harus siap untuk tidak lagi di anggap sebagai bapa, ibu, anak ataupun sebagai saudara. Karena itu Dia juga berkata: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Orang Kristen yang baik dan benar adalah orang Kristen yang siap melepaskan semua kelekatan hati pada benda, orang dan hobi yang menghambat iman akan Yesus Kristus.
Ayah, ibu, istri/suami, anak dan saudara dalam injil hari ini adalah simbol dari semua hal yang mengikat hati kita sehingga kita tidak mampu bergerak maju untuk mengikuti Yesus dengan lebih sungguh-sungguh. Di bulan kitab suci ini kita diajak untuk melepaskan semua ikatan itu dan fokus mendalami firman-Nya sehingga kita semakin mengenal dan mencintai Yesus. (LN).




