
Bacaan I : Why. 11:19a;12:1-6a,10ab; Bacaan II : 1Kor. 15:20-26; Bacaan Injil : Luk. 1:39-56.
MAGNIFICAT
Gereja menetapkan Hari Minggu ini sebagai Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Pesta ini biasanya dirayakan tanggal 15 Agustus, sebuah tradisi sejak abad VI. Santa Perawan Maria diangkat ke surga merupakan sebuah dogma yang ditetapkan Paus Pius XII melalui Konstitusi Apostolik “Munificentissimus Deus” (Allah yang sangat murah hati) yang diumumkan 1 Nopember 1950. Dogma ini menyusul beberapa dogma sebelumnya tentang Bunda Maria, yaitu : dogma Maria Bunda Allah (Theotokos/Mater Dei) (432 dan 451); dogma Maria Tetap Perawan (Maria Virgini) (553 dan 649); dogma Maria dikandung tanpa dosa asal (Immaculata conception) (1854). Bagaimana kita dapat memahami dogma ini ? Tuhan menciptakan Maria dalam rahim Santa Anna, ibunya, tanpa noda dosa asal. Mengapa ? Karena Tuhan menghendaki supaya Maria dapat mengandung Yesus, Putera Allah. Pada akhir hidup Maria di dunia, Allah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang istimewa bagi Bunda Maria. Dia diangkat jiwa dan raganya ke surga agar senantiasa bersama Yesus. Dasar biblis dari dogma ini :
1) Kej 3:15 “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (= ular/setan) dan perempuan ini; keturunannya akan meremukkan kepalamu ..”
2) Gal 4:4 “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan ..”.
3) Lk 1:28 : “Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” …. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan (ayat 42) .. mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku bahagia (ayat 48).
4) Why 12:1-6 : “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dengan 12 bintang di atas kepalanya”.
Keyakinan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga sudah dimulai sejak abad V. Tulisan Orang-orang kudus dan Bapa-Bapa Gereja membuktikan hal ini, misalnya tulisan : St. Yohanes Damaskus (676-754), St. Antonius Padua, (1195-1231), St. Thomas Aquinas (1225-1274), St Albertus Agung (1206-1280) dan St. Alphosus Liguori (1696-1787). Apa makna Pesta ini bagi kita ? Merayakan Pesta Maria diangkat ke surga dapat menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan kita. Bahwa pada satu saat nanti umat manusia akan kembali berada bersama Tuhan di surga. Makna ini ditegaskan kembali oleh KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) dalam Surat “LIHATLAH BUNDAMU” (1973) : “Maria diangkat ke surga merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepadaNya dibangkitkan bersamaNya.” Madah Magnificat Maria (Luk. 1:46-55) merupakan pujian syukur atas karya agung Allah, yang “mengerjakan perbuatan-perbuatan besar dalam diri Maria, hambaNya yang hina”. Karya agung ini direspons Maria dengan ketaatan tanpa syarat. “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu" (Lk 1:38). Ketaatan itulah yang mengantar Maria kepada kemuliaan bersama Allah di surga. Maka pesta ini hendaknya mendorong kita untuk selalu taat kepada kehendak Allah dan hidup dalam FirmanNya. Madah "Magnificat" Maria hendaknya menjadi madah hidup kita, karena “Allah telah mengerjakan hal-hal besar dalam diri kita” (Lk 1:49). Magnificat anima mea Dominum – Jiwaku memuliakan Tuhan ! (YS)




