
Bacaan I : Kej. 18:20-32; Bacaan II : Kol. 2:12-14; Bacaan Injil : Luk. 11:1-13.
Membangun kedekatan dengan ALLAH
Dari hasil kontemplasi beberapa waktu yang lalu, muncul pertanyaan penulis, di manakah aku meletakkan Allah? Apakah Allah berada di tempat tertinggi yang tidak terjangkau? Setelah direnungkan kembali sebenarnya aku menempatkan Allah terlampau jauh, dan aku yang tidak mau mendekat dan bersembunyi dari-Nya. Lalu terpikirlah tentang Yesus Kristus yang hadir di dunia berkarya untuk menghempaskan tabir dosa. Ternyata Allah “sangat berusaha mendekat dengan kita” apapun tingkat kesalehan kita. Renungan pun masuk ke perspektif yang lebih dalam: Membangun kedekatan hidup dengan Allah menjadi realitas bahwa kita bergantung sepenuhnya kepada Allah. Baik sebagai pribadi maupun dalam komunitas. Dalam komunikasi yang intens inilah Allah dengan kasih-Nya bersedia hadir di setiap keintiman itu untuk memberikan dan menyatakan anugerah-Nya. Dia juga akan terus mengiringi orang percaya yang bersedia diajar dan tetap setia pada kehendak-Nya bahkan dengan memberikan penyataan-penyataan khusus-Nya.
Dalam Kitab Kejadian kita bisa membaca tentang kedekatan Abraham dengan Allah, Abraham bercakap-cakap dengan Allah. Sementara Abraham berbicara dengan Tuhan, dia mencoba mengukur cinta dan belas kasihan Tuhan kepada orang-orang Sodom dan Gomora. Dia bertanya kepada Allah apakah Allah akan menghancurkan Sodom dan Gomora meskipun ada orang yang tidak bersalah: Allah pun berkata “tidak”. Sungguh Allah yang berbelas kasih , dercap iman-ku
Kasih dan belas kasihan Allah yang sama disampaikan melalui sebuah kisah yang diceritakan oleh Yesus dalam Injil Luk. 11: 1-13, tentang seorang teman yang gigih dan tidak pernah menyerah meminta tiga potong roti. Dengan kegigihannya, dia menemukan cinta dan belas kasihan Allah yang tak terbatas terhadapnya. Perikop injil Luk 11: 1-13 diawali dengan aktivitas doa Yesus Kristus di sela-sela pelayanan-Nya bersama dengan para murid. Yesus Kristus membekali dan memberikan teladan konkret bahwa doa menduduki posisi yang sentral dalam kehidupan pribadi maupun komunitas.
Secara tidak langsung Yesus Kristus telah mengajarkan kepekaan olah spiritual yang tak boleh dilupakan di sela-sela aktivitas, sesibuk apapun. Atas hal itu seorang dari mereka meminta untuk diajari berdoa. Menariknya adalah mereka meminta diajar berdoa seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Tanpa percakapan yang panjang Injil Lukas menuliskan bahwa Yesus mulai mengajarkan formulasi doa, isi doa, kata-kata doa, dan bukan “cara” berdoa.
Sebagai komunitas terkecil yaitu keluarga kita juga diingatkan untuk mampu mewujudkan relasi kasih antar anggota keluarga. Saling mendoakan dan mengingatkan pada saat mengalami masalah tertentu sehingga terasa hangat dan indah. Demikian pula menjadi suatu komunitas gereja yang terus saling melayani dan meneguhkan. Dan akhirnya kita semua diharapkan mampu hadir berelasi baik dengan sesama. Sebab Allah hadir di setiap relasi yang kita ciptakan terutama dalam setiap relasi yang kita buat dalam doa, permohonan, dan harapan kepada-Nya.
By : Inigo Roesli (IR)




