
Bacaan I : Kej. 14:18-20; Bacaan II : 1Kor. 11:23-26; Bacaan Injil: Luk. 9:11b-17.
Tubuh dan Darah Kristus
Hari ini kita memperingati Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Seiring dengan kemajuan jaman yang makin luar biasa belakangan ini, dimana semua hal dapat dikerjakan dan dipesan online, makin banyak muncul pendapat khususnya di kalangan muda yang mempertanyakan apakah kita masih perlu repot-repot setiap minggu pergi ke gereja untuk ikut perayaan Ekaristi, bukankah seharusnya gereja juga mengikuti jaman, dan makin banyak memberikan kemudahan kepada umatnya?
Ditambah lagi dengan pengalaman selama pandemi dua tahun terakhir, dimana terbukti kita tetap baik-baik saja dengan mengikuti ibadah online, apalagi dengan adanya peringatan belum benar-benar berakhirnya pandemi bukankah menjadi beresiko bila semua umat harus mengikuti lagi perayaan Ekaristi secara langsung?
Walaupun sebagai seorang katolik kita telah diajarkan bahwa hosti dan anggur pada perayaan Ekaristi telah mengalami transubstansi, yaitu berubah secara substansi dalam iman menjadi tubuh dan darah Kristus. Dengan makin populernya gerakan spiritualisme belakangan ini, makin banyak pula timbul pertanyaan: bukankah iman dan spirtualitas itu bersifat pribadi dan terjadi di dalam batin?
Apabila perintah intinya adalah mempraktekkan kasih kepada sesama, mengapa kita harus direpotkan dengan berbagai ritual-ritual yang panjang dan melelahkan itu?
Semua argumen-argumen itu terdengar baik dan benar, tapi apa yang terjadi bila kita bertanya: misalkan kamu merasa lapar, dan ingin sekali makan nasi Padang, apakah dengan memikirkan nasi Padang secara serius kamu akan menjadi kenyang? Apakah dengan membayangkan makanan itu sejelas-jelasnya akan mengenyangkan? Bukankah rasa lapar itu adanya di dalam pikiran kita dan bersifat pribadi, kenapa harus repot-repot dan keluar uang pula untuk memuaskannya?
Karena kita bukan hanya mahluk spiritual tetapi juga mahluk jasmani, maka Yesus berpesan: “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”, karena hanya dengan hadir secara jasmani maka Kristus akan hadir secara “istimewa” pula bagi kita. Semoga perayaan Tubuh dan Darah Kristus ini menjadi momentum kembalinya semangat dan devosi kita untuk hadir bersama-sama dalam perayaan Ekaristi bersama-sama pula. [AJ]




