
Bacaan I : Kis. 2:1-11; Bacaan II : Rm. 8:8-17; Bacaan Injil: Yoh. 14:15-16,23b-26.
Pentakosta
Pentakosta adalah perayaan memperingati turunnya Roh Kudus, yang menandai dinyatakannya Gereja sebagai umat Allah. Diharapkan kita menghargai anugerah itu, dan bukan hanya menghargai tetapi kita juga diharapkan untuk mewartakannya kepada orang lain. Tetapi benarkah anugerah itu cukup berharga untuk kita wartakan ke setiap orang? Apalagi jaman sekarang kita dituntut untuk mengedepankan keragaman (pluralitas), dan kita diminta menerima bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan, serta diharapkan tidak menyombongkan diri sebagai jalan atau pemahaman yang terbaik, sehingga kita bingung apa yang mau kita wartakan.
Bukan rahasia lagi bila banyak dari antara kita yang merasa gereja saat ini berjalan terlalu biasa saja, mungkin beberapa dari kita mulai menyalahkan musik yang kurang improvisasi, kotbah yang itu-itu saja, kaum muda yang kurang semangat, dan berbagai persoalan lain yang tidak habis-habisnya.Namun, apapun itu, intinya adalah: Kita kekurangan Api!
Apakah para pendahulu kita tidak menghadapi masalah pluralitas? Mereka malah harus menghadapi persekusi (penindasan dan genosida). Bahkan pada hari Pentakosta itu pun orang banyak melecehkan para rasul dengan: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (Kis 2:13), tapi memang betul mereka telah minum anggur Tuhan sehingga begitu beraninya berkata-kata kepada orang banyak. Lalu apakah yang menyebabkan para murid Tuhan begitu berani mewartakan walau dalam berbagai tekanan?
Mereka sedang mabuk cinta! Persis seperti waktu saya mabuk cinta pada awal pacaran dulu. Walaupun dengan muka tertunduk dan bicara tersendat-sendat saya beranikan minta ijin pada orang tuanya untuk mengajaknya jalan keluar, dan kemudian dengan bangga memamerkan dia kepada semua teman-teman. Waktu itu, bagi saya hidup dipenuhi oleh dia saja, baik sedang belajar, makan, bahkan tidur pun, semuanya. Bukankah Tuhan juga selalu hadir memenuhi berbagai aspek hidup kita? Lalu mengapakah kita malah malu-malu untuk memamerkan hubungan kita dengan Tuhan kepada orang lain? Atau jangan-jangan kita sudah mulai tidak cinta lagi, hanya terpusat pada diri sendiri, bahkan menolak kehadiran-Nya dalam hidup kita? [AJ]




