
Bacaan I : Mi. 5:1-4a; Bacaan II : Ibr. 10:5-10; Bacaan Injil: Luk 1:39-45.
Dalam bacaan Injil hari Elisabet berkata: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Apakah yang akan terjadi apabila Tuhan mengunjungi kita pada hari Natal, dan ternyata kita belum siap, mulai dari rumah yang masih berantakan, sampai hati yang sama sekali belum tertuju kepada kedatangan Kristus, dan hal-hal itu biasanya membuat kita tanpa sadar menghindari perjumpaan dengan Dia. Akibatnya seringkali peringatan Natal berlalu berkali-kali dalam hidup kita tanpa terasa karena kita merasa tidak pantas, atau tidak tahu bagaimana caranya merayakan Natal.
Padahal inti dari perayaan Natal sudah disebutkan oleh bacaan pertama: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda”. Artinya Tuhan yang maha tinggi datang di Betlehem, sebuah kampung kecil dan sederhana di pinggir kota Yerusalem (8km) yang kebanyakan penduduknya hanya gembala domba saja. Oleh karena itu makna Natal yang kita rayakan adalah merayakan kedatangan Tuhan yang dengan rela merendahkan diri hadir ditengah-tengah manusia. Sehingga sebenarnya ketidak-siapan dan ketidak-pantasan kita bukanlah alasan untuk menghindar dari kedatangan Dia. Kita diingatkan akan cerita dimana Yesus mengetuk pintu (Wahyu 3:20), pada waktu Yesus mengetuk tidak dikatakan Dia hanya mengetuk pintu orang suci saja, atau meminta agar rumah yang didatangi sudah bersih dan beres, atau apakah penghuni rumah berdosa atau tidak, yang diminta Yesus adalah “mendengar dan membukakan pintu”. Kita memang selalu tidak pantas dihadapan Tuhan, untuk itu ada satu kalimat dalam perayaan Ekaristi yang selalu berkesan mendalam kepada saya: “Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh”, kalimat ini selalu saya ucapkan dengan khusuk, dan penuh rasa syukur karena walaupun saya tidak pantas Tuhan tetap mau datang kepada saya. Marilah kita menyambut Natal kali ini dengan suasana hati yang berbeda, kita mencontoh Elisabet yang menyambut kedatangan bayi Yesus dengan penuh kerendahan hati dan rasa syukur. Dan rasanya juga sudah saatnya bagi kita untuk kembali berusaha melakukan perayaan Ekaristi langsung di gereja, untuk langsung mendengar dan membukakan pintu bagi Dia. [aj]




