
Bacaan I ; Dan. 12:1-3; Bacaan II.; Ibr. 10:11-14,18; Bacaan Injil. Mrk. 13:24-32.
RESILIENSI IMAN DI TENGAH KRISIS
Resiliensi adalah salah satu kecerdasan manusia, yang oleh para Psikolog didefinisikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Atau kata lainnya, kekuatan dalam diri manusia untuk bisa tetap bertahan di tengah segala macam krisis kehidupan. Krisis kehidupan itu menyangkut peristiwa yang menantang, menggoncangkan hati dan bahkan mematikan, seperti bencana alam, wabah penyakit, penganiayaan, perang dan peristiwa-peristiwa hidup lainnya.
Bacaan injil hari ini menyajikan suatu tantangan terhadap resiliensi iman kita. Yesus menyampaikan suatu ramalan bencana besar yang akan dihadapi setiap orang Kristen dalam hidup berimannya. Bencana besar itu berupa siksaan, matahari jadi gelap, bulan tidak bercahaya, bintang-bintang berjatuhan dari langit dan kuasa langit akan goncang. Peristiwa alam yang digambarkan Yesus dalam injil ini merupakan metafora tentang semua peristiwa yang menggentarkan hati, dan menggoncangkan iman dalam perjalanan hidup seorang Kristen. Menghadapi tantangan semacam ini kita diajak untuk memiliki resiliensi iman yang kokoh dan kuat, karena tantangan, penderitaan dan bahkan kematian karena iman adalah bagian yang tak terpisahkan dari kemuliaan yang akan dianugerahkan kepada kita. Sejarah kekristenan telah membuktikan bahwa Resiliensi adalah DNA-nya orang Kristen. Semua orang yang tercatat dalam Alkitab, dan sejarah Gereja, adalah orang-orang tangguh yang mampu menghadapi tantangan di zamannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki resiliensi iman yang tinggi di tengah penderitaan, penganiayaan, bencana alam, wabah penyakit, dan bahkan kematian. Mereka kokoh dan kuat bertahan karena berpegang teguh pada Firman Yesus “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mrk 13:31) dan kemuliaan yang dijanjikan dibalik krisis yang yang menggoncangkan itu “… orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Mrk 13:26). Atau yang digambarkan Daniel dalam bacaan pertama bahwa “orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.” (12:3).
Resiliensi adalah DNA yang telah dianugerahkan Yesus kepada kita sejak kita dipermandikan. Mari kita tidak mengeluh dan putus asah dengan tantangan kecil yang kita hadapi setiap hari (termasuk virus Corona), tetapi sebaliknya menjalaninya dengan penuh syukur, karena itu merupakan jalan menuju sukacita yang akan kita peroleh dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. [LN]




