
Bacaan I ; Keb. 7:7-11; Bacaan II.; Ibr. 4:12-13; Bacaan Injil.. Mrk. 10:17-30/Mrk. 10:17-27.
HARTA YANG PALING BERHARGA
Harta yang paling berharga adalah keluarga. Penggalan syair dari lagu sinetron Keluarga Cemara ini mungkin tidak asing bagi kita. Bagi para pengikut Kristus, harta yang paling berharga adalah kehidupan kekal. Karena untuk itulah Sang Mesias datang untuk menebus dosa umat manusia agar manusia beroleh hidup yang kekal.
Bacaan Injil hari ini menceritakan seseorang yang datang kepada Yesus. Dia telah melakukan semua perintah Allah namun dia masih merasa perlu meminta konfirmasi kepada Sang Guru, apalagi yang harus dilakukannya agar memperoleh hidup kekal. Sampai di sini pembaca bisa menilai bahwa dia adalah orang ini saleh. Cita-citanya adalah untuk memperoleh hidup yang kekal. Usahanya tidak main-main, sejak muda dia telah melakukan apa yang diperintahkan dalam kitab Taurat.
Namun jawaban Yesus membuat orang ini sedih karena dia diminta menjual seluruh hartanya dan bersedekah kepada orang miskin. Pernyataan Yesus ini menjungkirbalikkan pandangan umum tentang kekayaan yang dianut orang Yahudi pada waktu itu. Bagi mereka kekayaan adalah tanda bahwa seseorang diberkati karena dekat dengan Allah (Ul 28:1-14), sebaliknya kemiskinan dianggap sebagai kutukan karena melawan kehendak Allah (Ul 28:15-46).
Lalu apa reaksi Yesus melihat sikap orang kaya yang saleh tersebut? Dia mengatakan sebuah tamsil “Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Ini adalah ungkapan yang umum digunakan di kalangan masyarakat pada waktu itu untuk menunjukkan sebuah kemustahilan.Yesus tidak menyalahkan orang tersebut karena dia kaya namun karena dia dikuasai oleh kekayaannya dan mengesampingkan kehidupan kekal.
Di bacaan pertama, Salomo memberikan pelajaran berharga mengenai kekayaan. Dengan indah dia melukiskan bagaimana dia lebih mencintai roh kebijaksanaan daripada tongkat kerajaan tahta, dan kekayaan (Keb 7:7-8). Namun justru kebijaksanaan itulah yang mendatangkan segala kekayaan dan harta milik (ay 11).
Manusia bekerja keras dan menggunakan seluruh waktu yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidup. Padahal hidup di dunia ini hanya sementara saja. Ada kehidupan lain yang tidak boleh dilupakan yaitu kehidupan kekal. [CT]




