
Bacaan I. Yes. 50:5-9a; Bacaan II. Yak. 2:14-18; Bacaan Injil. Mrk. 8:27-35.
Hidup dengan memahami Pikiran Kristus
Ada dua catatan dalam yesus mewartakan karya Allah
Yang pertama. Pelayanan Yesus sangat bersifat personal penuh perhatian dan belas kasih. Pelayanan Yesus selalu tepat sasaran dan memberikan yang terbaik dan juga sarat makna.
Dalam menyembuhkan lidah orang gagap dan menyembuhkan orang tuli dan bisu, Yesus mau menyatakan secara metafora bahwa hendaknya manusia mampu mewartakan Sabda Allah yang telah didengarnya, dan tidak boleh diam terhadap situasi yang dilihat atau didengar! , bahwa sejatinya manusia adalah mitra Allah yang berbelas kasih dan punya kewajiban mewartakan kebaikan dan karya besar Allah kepada orang lain. Orang orang itu bukan saja sekedar sembuh, tetapi diselamatkan.
Yang kedua Yesus tidak tertarik untuk mencari popolaritas atau istilah masa kini PANSOS atas mukjizat yang dilakukan-Nya
Dalam melakukan mukjizat Yesus menggunakan alat, seperti ketika menyembuhkan orang tuli dan bisu, Yesus memasukkan jari ke telinganya seolah-olah ingin mengeluarkan sesuatu yang menutup pendengarannya. Yesus juga meludah, kemudian meraba lidahnya seakan-akan ingin membuatnya lembab dan menghilangkan sesuatu yang merekatkannya. Jari dan ludah adalah alat yang digunakan Yesus, dan Yesus melakukannya dengan penuh empati dan selalu dituntaskan dengan berdoa sebagai puncak permohonan agar mukjizat yang dihadirkan bersumber dari Allah. Setelah mukjizat hadir , Yesus melarang pemberitaan tentang diri-Nya.
Ada dua hal yang mau ditarik dari kondisi di atas. Sering kita jumpai diri kita sendiri tatkala kita melayani, kita menjadi lupa diri. Kita tidak memposisikan diri kita sebagai alat laksana jari dan ludah dari dua mukjizat penyembuhan di atas. seharusnya kita berpikir bahwa kita adalah alat penyalur berkat Allah bukan pembuat berkat, kita sebaiknya selalu dengan rendah hati mengakui bahwa hasil tersebut adalah bukan buah kehebatan diri kita, sehingga kita boleh terhindar dari pamrih dan jumawa diri yang berkeinginan untuk supaya dikenal dan dihargai orang.
Mari kita selalu mendengarkan sabda Allah bukan saja sekedar menangkapnya dengan telinga tetapi wajib dimasukan ke hati supaya sabda Allah meresap ke dalam setiap relung nadi dan berbuah menjadi sikap hidup sebagai saksi Kristus. By :Inigo Roesli




