
Bacaan I: Kis. 10:25-26,34-35,44-48; Bacaan II: 1Yoh. 4:7-10; Bacaan Injil : Yoh. 15:9-17.
Kasih yang Kainos
Sejak manusia pertama diusir dari Eden karena melanggar perintah Allah, peradaban manusia terbelenggu oleh dosa.. Dendam, iri hati, keserakahan, kemarahan sungguh menghantui perjalanan hidup manusia. Namun Allah tidak membiarkan manusia berjuang sendiri menjalaninya. Dia selalu menyertai perjalanan hidup manusia. … sebab Allah adalah kasih. [1Yoh 4:8b]. Kasih membuat perjalanan hidup menjadi bermakna.
Sebegitu pentingnya kasih ini, dalam detik-detik menjelang langkah-langkah menuju kesengsaraanNya, Tuhan Yesus merasa perlu mengulangi perintah untuk saling mengasihi kepada para rasul. Didalam perikop sebelumnya, Tuhan Yesus memberikan perintah baru yaitu supaya para murid saling mengasihi, sama seperti yang dilakukanNya kepada para murid [Yoh 13:34].
Mungkin kita bertanya-tanya, apakah mengasihi ini adalah perintah baru? Bukankah perintah mengasihi TUHAN telah disampaikan Musa dalam kitab Ulangan. Sementara perintah untuk mengasihi sesama ada di dalam kitab Imamat? Sepertinya tidak ada yang baru dalam hal mengasihi. Namun jika dibaca dalam teks bahasa Yunani yang merupakan bahasa dimana Perjanjian baru ditulis, kata “baru” pada Yoh 13:34 adalah KAINOS yang menunjukkan baru dalam aspek kualitas. Bukan NEOS yaitu “baru” yang menerangkan aspek waktu. Perintah mengasihi [KAINOS] akan lebih mudah dipahami dengan membaca Mat 5:38-42.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan kualitas kasih seperti yang diminta oleh Tuhan Yesus? Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan dari bacaan Injil Minggu lalu mengenai Pokok Anggur yang Benar dimana Tuhan Yesus meminta para murid untuk tinggal di dalam Dia agar berbuah banyak [Yoh 15:5]. Dengan demikian agar kita bisa meningkatkan kualitas kasih kita maka kita juga harus tinggal di dalam kasih Kristus [ayat 9]. Karena hanya kasih Kristus saja yang “…memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya.”
Marila kita senantiasa meningkatkan kualitas kasih baik itu kepada Allah dan juga kepada sesama karena dengan demikian kita telah menjadikan perjalanan hidup ini sungguh bermakna. [CT]




