
Bacaan I: Kis. 4:8-12; Bacaan II: 1 Yoh. 3:1-2; Bacaan Injil : Yoh. 10:11-18.
SETIA BUKAN SEKEDAR BERTAHAN
Siapa sih yang tidak ingin hidupnya bahagia? Atau sukses? Atau berhasil? Saya kira tidak ada. Tidak ada orang yang tidak mau mencapai suatu kebahagiaan. Lalu, bagaimana untuk mencapai kebahagiaan itu sendiri? Albert Einstein, salah seorang ilmuwan hebat di dunia ini, pernah berkata: “Jika kamu ingin hidup bahagia, ikatlah itu pada sebuah tujuan. Bukan untuk orang atau benda" Hal ini mau mengatakan kepada kita bahwa setiap orang (tanpa terkecuali) harus memiliki tujuan. Tanpa tujuan, hidup manusia terasa hampa, tidak terarah, dan akhirnya tidak bahagia. Dalam proses mencapai tujuan itu, kesetiaan sangat dibutuhkan. Sebab, setiap segi kehidupan manusia membutuhkan apa yang disebut dengan kesetiaan. Ketika seseorang menjaga hubungan baik dengan sesamanya, perlu kesetiaan. Ketika seseorang mengolah dirinya supaya menjadi lebih baik, perlu kesetiaan. Jika dalam hubungan dengan sesama dan diri sendiri membutuhkan kesetiaan, apalagi dalam menjalin hubungan dengan Yesus, pasti membutuhkan kesetiaan yang lebih. Tuhan selalu setia kepada kita manusia, walaupun terkadang kita tidak setia kepada-Nya.
Kesetiaan Tuhan dapat dipahami dalam perumpamaan tentang Gembala yang baik. Tuhan Yesus berkata: “Akulah Gembala yang baik” (Yoh 10: 11). Dalam ayat 14 dan 15, Yesus menegaskan: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu”. Dari ayat ini, ada dua hal yang hendak disampaikan kepada kita. Pertama, bahwa setiap orang Kristiani adalah domba yang digembalakan oleh Yesus. Sakramen baptis yang sudah kita terima, adalah bukti bahwa kita mengenal Yesus. Dan karenanya, Yesuslah yang menjadi gembala hidup kita; Yesuslah yang mengarahkan hidup kita menuju pada kebahagiaan. Dia adalah satu-satunya jalan menuju persatuan dengan Bapa (Yoh 14:6). Pertanyaannya adalah jika Yesus yang mengarahkan hidup kita apa yang kita lakukan? Yang kita lakukan adalah setia. Setia pada Yesus sampai pada akhir hayat. Sebab, tanpa Yesus, kita tersesat. Ibaratnya seekor domba yang keluar dari kawanan domba sang gembala. Pasti ‘serigala’ akan dengan mudah ‘menerkam’ domba yang tersesat itu. Kedua, Yesus memberikan nyawa bagi domba-dombaNya. Yesus yang memberikan nyawanya bagi domba-dombaNya mau menunjukkan kepada kita betapa besar pengorbanan Yesus kepada umat manusia. Ia rela menderita, disalibkan, dan wafat, hanya untuk menebus dosa-dosa kita. Ia merelakan nyawanya hanya untuk menyelamatkan kita dari serangan ‘serigala’. Sehingga kita layak disebut ‘anak-nak Allah’ (1 Yoh 3:10). Itulah karunia kebaikanNya kepada manusia. Injil Yohanes mau mengingatkan kita untuk rela berkorban sama seperti Yesus. Yesus sudah memberi teladan untuk kita, maka sudah seharusnya kita meneladaniNya. Jika Yesus sudah setia kepada kita, bahkan Ia rela mati bagi kita, akankah kita dengan mudah tidak setia kepada Dia?
Saudara-saudari, sebagai anak-anak Allah, kita tidak hanya sekedar setia kepada Allah; kita tidak sekedar bertahan menjadi ‘domba-domba’ Yesus di tengah dunia yang semakin susah; kita tidak sekedar setia ke Gereja, rajin berdoa, baca Kitab Suci, dan lain sebagainya. Tetapi, melalui kesetiaan kepada Allah, kita diajak untuk menunjukkan rasa tanggungjawab dan pengorbanan, sama seperti Yesus sang Gembala yang telah berkorban untuk kita. Kelak, Yesus tidak bertanya pada kita berapa kali kamu ke gereja?; berapa kali kamu berdoa: berapa banyak ayat kitab suci yang kamu hafal?; dan lain sebagainya. Namun, Yesus bertanya: berapa kali kamu berkorban untuk keluargamu?; berapa kali kamu berkorban untuk saudara-saudarimu?; berapa kali kamu berkorban untuk pilihan hidupmu?; berapa kali kamu berkorban untuk sesamamu yang menderita?. Sekali lagi, setia kepada Yesus tidak sekedar bertahan, tetapi setia kepada Yesus harus disertai dengan semangat pengorbanan. Sebab, dengan pengorbanan kita semakin mengarahkan diri kepada sang kebahagiaan. Tidak ada pengorbanan yang berujung sia-sia. Tidak ada pengorbanan yang tak berguna. Semoga, dengan pengorbanan kita, dunia semakin mengenal Allah. Sebab, itulah tugas kita sebagai anak-anak Allah, yakni membawa terang bagi dunia supaya semakin mengenal Allah (bdk. 1 Yoh 3: 1b). Fr. Paulinus Daeli, OSC




