
Bacaan I: Yes. 45:1,4-6; Bacaan II: 1Tes. 1:1-5b; Bacaan Injil: Mat. 22:15-21.
Bersikaplah Adil Pada Dunia dan Tuhan
Pada Pekan ketiga Oktober ini, kita diajak untuk merenung dan merefleksikan Injil Matius (22:15-22). Isinya terkait masalah kewajiban membayar pajak kepada kaisar. Pernyataan Yesus ini kerap dikaitkan dengan persoalan politik. Dalam kisah tentang kewajiban membayar pajak, orang-orang Farisi berusaha untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan yang berimplikasi terhadap hukum dan politik.
[Mat.22:17] "Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?"
Jika Yesus menjawab 'kalian tidak perlu membayar pajak kepada kaisar' maka ucapan itu berimplikasi terhadap hukum yakni melanggar hukum. Karena setiap warga negara wajib membayar pajak. Sementara implikasi politiknya, jika tidak membayar pajak, berarti melawan penguasa. Yesus pun bisa ditangkap dan diadili. Tentu saja, bila Yesus tidak menjawab, maka dianggap tak punya sikap dan tidak layak diikuti.
Ketenaran Yesus saat itu menjadi perhatian banyak pihak. Tapi orang-orang Yahudi, termasuk para ulamanya tak suka. Ajaran-Nya dianggap bertentangan dengan tradisi. Mereka makin tidak suka, ketika Yesus mulai disebut-sebut sebagai Mesias, Anak Allah, dan Tuhan. Para ulama Yahudi selalu berupaya mencari celah untuk bisa menjatuhkan Dia.
Apa yang bisa kita teladani dari kisah Yesus ini?
Yesus persona yang sangat hebat dalam membaca situasi. Pikiran-Nya amat bernas dan cerdik. Sikap-Nya selalu tegas, tenang dan berani. Berkata benar, jujur, dan berlaku adil dalam situasi apa pun menjadi ciri khas Yesus yang wajib kita teladani. Ketaatan-Nya pada Bapa tak boleh dilupakan.
[Mat.22:19-21] Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu. Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Di lingkungan tempat kita hidup sehari-hari, keteladanan Yesus ini harus menjadi nafas dan sikap kita. Tuhan memberkati. (VH)




