
Bacaan I: Yes. 55:6-9; Bacaan II: Flp. 1:20c-24,27a; Bacaan Injil: Mat. 20:1-16a.
HIDUP YANG PENUH IMAN DAN SYUKUR KEPADA TUHAN
Dalam kehidupan tiap hari kita temukan perbedaan reaksi manusia dalam perjuangan memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada yang mendapat banyak tetapi masih mengeluh kurang, ada yang mendapat sedikit tetapi selalu gembira hidupnya, dan ada yang mendapat sama tetapi merasa Tuhan tidak adil karena seharusnya dia mendapat lebih banyak dari yang lain.
Tipe kelompok orang yang ketiga inilah yang juga melanda para pekerja dalam perumpamaan dalam injil hari ini. Para pekerja yang masuk pagi hari merasa diperlakukan tidak adil karena dibayar sama dengan mereka yang masuk jam lima sore. Mereka iri hati dan besungut-sungut karena membandingkan pendapatan mereka dengan para pekerja yang masuk kemudian. Perbandingan ini memicuh kekecewaan dan ketidakpercayaan pada tuan rumah yang mempekerjakan mereka.
Di titik puncak kekecewaan inilah Yesus mau mewartakan nilai spiritual kehidupan kerajaan Allah kepada kita umat-Nya. Yesus mewartakan bahwa Allah berdaulat dan bebas menganugerahkan kemurahan-Nya kepada setiap manusia tanpa memandang jasa dan senioritas dalam kehidupan Kristiani. Yang pertama dihargai sama dengan yang terakhir. Allah juga setia dengan janji-Nya, yaitu menyelamatkan manusia dari dosa dan menganugerahkan kehidupan surga bagi yang setia kepada-Nya.
Sikap spiritual yang perlu kita kembangkan adalah menerima dan mengakui kedaulatan Allah (Iman) yang terjadi dalam hidup kita. Menerima bahwa Allah berhak menganugerahkan atau tidak menganugerahkan rezeki kepada kita. Anugerah rezeki yang diberikan pun bukan berdasarkan jasa kita tetapi semata karena kebaikan dan cinta Tuhan. Kedua adalah setia pada firman-Nya. Tuhan berjanji untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kita setia mengikuti firman-Nya, serta menata hidup yang siap selalu menyambut kedatangan-Nya kembali. Ketiga adalah bersyukur. Sikap yang pantas bagi manusia adalah bersyukur atas setiap nikmat hidup dan anugerah Allah yang kita alami setiap hari. Hanya dengan demikian maka kita akan bahagia dan merasakan kehadiran Tuhan setiap saat dalam hidup kita. (LN)




