
Bacaan I: Yes. 22:19-23; Bacaan II: Rm. 11:33-36; Bacaan Injil: Mat. 16:13-20.
Pertanyaan yang dilayangkan Yesus kepada para muridnya, merupakan pertanyaan dari hati ke hati dan sangat mendasar bagi iman seorang murid. Bukannya Yesus tertarik dengan gambaran yang diberikan kepadanya tentang siapakah dia, melainkan Yesus ingin memberi pemahaman bahwa yang utama ialah pertemuan pribadi dengannya dan melaksanakan nilai-nilai Kerajaan Allah. Petrus mengafirmasi dengan benar siapakah Yesus yang sesungguhnya, tetapi dia masih belum bisa teguh dalam iman dan itu terlihat dengan jelas dimana dia jatuh dalam hal kesetiaan kepada Yesus, makanya ia harus memulai perjalanan panjang untuk belajar berjalan bersama Yesus, ia harus merubah serta membentuk hatinya menyerupai hati sang Guru, belajar menemukan arti dari pernyataan imannya hingga menumpahkan darah di salib seperti yang dilakukan Yesus sendiri.
Pertanyaan Yesus masih bergema di telinga kita hingga hari ini, pertanyaan dari seorang yang lagi kasmaran yang ingin mengetahui isi hati dari orang yang dicintainya. Maka dari itu, setiap murid Yesus harus memberi ruang yang intim dalam hatinya untuk mendengarkan pertanyaan Yesus “menurutmu siapakah aku ini? Yesus akan membantu kita untuk melihat kembali, apakah hati dan perbuatan kita sungguh menjawab apa yang diungkapkan dan diimani, ataukah kita terbawa arus untuk mengikuti kriteria Dunia, dengan memuja banyak idola yang menghanyutkan kita dengan lagunya dan menghangatkan dengan kebohongan dan kepalsuan.
Marilah kita berhenti sejenak dari berbagai kesibukan dan berani menjawab dengan jujur “Siapakah Yesus bagi kita?” Apakah kita sungguh mengimani apa yang kita imani? Apakah kita selalu berdialog dengan Yesus, memberikan Dia waktu, dan menjalankan perintahnya dengan serius? Jangan takut, siapa yang membiarkan Kristus masuk dalam hatinya, ia tidak akan hilang, melainkan dengan persahabatannya membuka pintu bagi kehidupan. Amin P. Patrisius Frans Maria Bora. OSM.




