
Bacaan I: Why. 11:10a;12:1,3-6a,10b; Bacaan II: 1Kor. 14:20-26; Bacaan Injil: Luk. 1:39-56.
HARI RAYA MARIA DIANGKAT KE SURGA
Dalam kitab Wahyu mengisahkan pertarungan antara sang Wanita dan naga. Figur wanita yang merepresentasikan Gereja nampak disatu pihak mulia dan jaya, dilain pihak dalam derita.
Begitu pula Gereja, disatu pihak mendapatkan kemuliaan dari Tuhan di surga, dan dalam sejarah terus menghadapi cobaan dan tantangan karena adanya pertarungan antara Tuhan dan kejahatan yang diprakarsai iblis. Sebagai murid Kristus, kita harus terus bertarung melawan kejahatan, Maria Bunda Allah dan Gereja telah mendapatkan kemulian abadi di surga, bukan berarti dia berada jauh dari kita, terpisah dari kita, namun sebaliknya, Maria akan selalu bersama kita, bertarung bersama kita, dan selalu membantu setiap umat kristiani bertarung melawan kekuatan jahat.
Bacaan kedua berbicara tentang kebangkitan, Rasul Paulus mengingatkan bahwa iman kita bukanlah sebuah ide belaka, melainkan suatu kejadian, maka menjadi kristiani, berarti percaya bahwa Kristus sungguh bangkit dari antara orang mati dan dengan kemanusiaannya masuk dalam keabadian.
Kebangkitan ini merupakan dambaan bagi setiap kristiani, suatu harapan untuk bersatu dalam kemuliaan Allah bersama Kristus. Maria menjadi bukti partisipasi manusia dalam kebangkitan Kristus, ia yang menderita dalam hati disaat Yesus menderita di kayu Salib, yang bersatu bersama Kristus dalam kematian, menerima rahmat kebangkitan. Maka dari itu, Kristus adalah awal dari kebangkitan, dan Maria adalah awal dari yang tertebus.
Injil mengisahkan tentang nyanyian Magnificat, nyanyian Maria, nyanyian harapan, kebahagiaan, dan sukacita, karena sesungguhnya melalui perantaraan Maria, rencana karya keselamatan yang berasal dari Allah dapat terwujud. Ini merupakan nyanyian seorang beriman, iman dari seorang Maria yang taat kepada firman Allah, dan yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak yang ilahi. Kita pun diajak untuk percaya akan karya Allah dalam hidup kita, seperti Maria yang mengunjugi Elisabet, yang berziarah membagikan sukacita iman, kitapun keluar dari kenyamanan untuk berziarah membagi sukacita iman dengan memberi harapan akan kehidupan bagi sesama. Amin. P. Patrisius Frans M Bora OSM




