
Bacaan I: Ul. 8:2-3,14b-16a; Bacaan II: 1 Kor. 10:16-17 ; Bacaan Injil: Yoh. 6:51-58.
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS “PENYERAHAN TOTAL”
Hari ini Gereja merayakan Pesta TUBUH dan DARAH KRISTUS. Santa Yuliana dari Liege/Belgia sangat berperan dalam pesta ini. Di usia 13 tahun, dia bergabung dengan Konggregasi Suster Agustinian. Pada tahun 1209 Suster Yuliana mendapat penampakan berupa "bulan yang terang gemilang namun noda hitam di dalamnya". Penampakan itu berulang-ulang. Setelah dia berdoa dan bermati-raga, Tuhan menjelaskan artinya. Tuhan menghendaki perayaan khusus untuk menghormati Sakramen Mahakudus. Tahun 1246 Mgr Robert de Thorete dari keuskupan Liege merayakan pesta ini di keuskupannya. Tahun 1264 Paus Urbanus IV menerbitkan Bulla "Transiturus" yang menetapkan HARI RAYA TUBUH KRISTUS - Corpus Christi dan dirayakan pada Kamis sesudah Pesta Tritunggal. Sejak Konsili Vatikan II Gereja mengubahnya menjadi HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS dan dirayakan pada hari Minggu.
Dalam injil hari ini (Yoh 6:51-58) Yesus menyatakan DiriNya sebagai ROTI yang turun dari surga. "Akulah Roti hidup yang turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya .."(Yoh 6:51). Apa makna Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bagi kita ? 1) Yesus hadir secara nyata dalam perayaan Ekaristi. "Kita tidak menyambut roti dan anggur melainkan menyambut Tubuh dan Darah Kristus". Perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dikenal sebagai "transubstansiasi" (bdk. Konsili Lateran - 1215). Oleh karena itu, waktu menyambut Tubuh & Darah Kristus, kita harus dalam keadaan "bersih" atau tidak dalam keadaan dosa berat. 2) Yesus adalah santapan jiwa kita. Sebagaimana kita membutuhkan nutrisi dan makanan bergizi untuk tubuh jasmani, kita juga butuh TUBUH/DARAH KRISTUS untuk kehidupan rohani. Konstitusi Liturgi dengan jelas menegaskan bahwa "Ekaristi adalah puncak dan sumber untuk kehidupan gereja" (no.10). 3) Yesus melambangkan DiriNya dengan "ROTI". Sebagaimana roti diolah dari biji gandum yang dipetik, digiling, diberi adonan, dipanggang untuk dikonsumsi, demikian juga Yesus harus melalui penderitaan, sengsara, wafat dan kebangkitan untuk menjadi santapan rohani. Roti menjadi simbol penyerahan diri total dan cinta tanpa syarat. Dengan menyambut Tubuh/Darah Kristus, kita menyatukan diri dengan Kristus. Penyerahan diri dan cinta tanpa syarat seharusnya juga menjadi semangat kita. 4) Kita disatukan dengan sesama. "Karena roti hanya satu, maka kita sekalipun banyak, merupakan satu tubuh ...(bacaan II : 1 Kor 10:17).
Pesta ini memperkuat rasa kebersamaan di antara kita sebagai "Satu Tubuh ... dan Kristus sebagai Kepala" (1Kor 12:1-27; Ef 1:10). Bersama Santo Thomas Aquinas, kita bermadah : "Adoro Te devote, latens Deitas, quae sub his figuris vere latitas, Tibi se cor meum totum subjicit, quia Te contemplans totum deficit" - Allah yang tersamar Dikau kusembah, sungguh tersembunyi, roti wujudnya, s'luruh hati hamba tunduk bersembah, kumemandang Dikau, hampa lainnya" (Puji Syukur 560) (YS)




