
Bacaan I: Kis. 2:1-11; Bacaan II: 1 Kor. 12:3b-7,12-13; Bacaan Injil: Yoh. 20:19-23.
Bahasa Roh
Dikatakan pada hari Pentakosta turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras dan tampak lidah-lidah seperti nyala api pada para murid, kemudian mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lain yaitu bahasa Roh, maka terheran-heranlah orang-orang yang melihat mereka dan sejak saat itu murid Kristus bertumbuh secara pesat, ribuan orang setiap harinya. Jadi bisa dikatakan perkembangan jumlah murid Kristus pertama kali terjadi melalui hadirnya bahasa Roh. Seperti apakah bahasa Roh itu? Apakah seperti bahasa yang beberapa orang mengatakan itu adalah bahasa Roh? Kiranya bukan seperti itu bahasa Roh yang diucapkan oleh para murid pada hari Pentakosta.
Peristiwa itu dimulai dengan turunnya dari langit tiupan angin keras kepada para murid, dan ini mengingatkan kita akan saat Allah pertama kali membentuk manusia dari debu tanah dan kemudian “menghembuskan nafas hidup” (Kej 2:7). Tiupan atau hembusan dari Roh Allah inilah yang disebut bahasa Roh yang sejati, tiupan yang menghidupkan dan mengobarkan api kasih para murid, yang pada gilirannya menghembuskan kembali kekuatan Roh Kudus itu kepada orang-orang lain sehingga mereka ikut tergerak hatinya, melihat kebaikan Tuhan, dan mengikuti-Nya.
Kita semua telah menerima Roh Kudus saat menerima sakramen baptis dan krisma, dan hari Pentakosta ini adalah hari dimana kita merayakan dan mengenang kembali turunnya Roh Kudus kepada diri kita. Pada hari ini kita diminta untuk memeriksa apakah Roh itu masih ada pada kita, dengan memperhatikan hembusan seperti apakah yang keluar dari diri kita sehari-hari. Apakah hembusan yang menghidupkan, menggembirakan, memberi kelegaan dan harapan pada orang-orang disekitar kita, atau sebaliknya hembusan berupa kekesalan, keluhan, celaan, putus asa, atau malah ketidak-pedulian, acuh tak acuh?
Bagaimana caranya berbahasa Roh? Pertama-tama adalah dengan mendengarkan Roh dalam hati kita, dan tentunya kita tidak dapat mendengar suara-Nya bila hati kita kebanyakan berisi kekesalan, ketidak puasan, ketidak pedulian atau keinginan-keinginan. Inilah saatnya berhenti sejenak, meninggalkan semuanya, untuk mendengarkan berhembusnya Roh Kudus. –aj




