
Bacaan I: Kis. 1:`12-14; Bacaan II: 1Ptr. 4:13-16; Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a.
Inilah hidup yang kekal itu
Setelah Yesus diangkat ke surga, para rasul, bunda Maria dan murid-murid lainnya berkumpul untuk: “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama”, jumlah mereka kira-kira seratus dua puluh orang. Itulah sebabnya kita melakukan Doa Novena Roh Kudus di antara perayaan kenaikan Yesus ke surga dan Pentakosta. Apakah wajar bila para murid berkumpul berdoa bersama? Bukankah mereka sering melihat contoh dari Yesus yang tekun berdoa. Tetapi bila kita mengingat betapa para murid malah tertidur saat menunggui Yesus berdoa di taman Getsemani, kita akan melihat bahwa peristiwa berdoa bersama ini adalah mulai bangkitnya suatu kebiasaan baru yang dimulai para murid setelah Yesus diangkat ke surga.
Ada sebuah semboyan kuno Gereja yang berkata: “Lex orandi, lex credendi” yang artinya: sebagaimana kita berdoa, seperti itulah iman kita. Dan minggu ini kita diminta untuk menilai dan mengevaluasi kembali hidup doa kita, karena seberapa baiknya hidup doa kita, sebaik itulah iman kita. Walaupun kita hidup pada masa jauh sesudah peristiwa Pentakosta, kita diingatkan kembali, diluar berbagai hal yang harus dilakukan Gereja, berbagai adminstrasi, penggembalaan, pewartaan, dan tugas-tugas sosial, Gereja pada intinya adalah dibangun di atas umat yang berkumpul bersama untuk berdoa, dan betapapun saat ini kita tidak dapat berkumpul karena harus menjaga jarak untuk sementara waktu, kita tidak boleh dan tidak dapat melupakan jati diri dasar kita sebagai anggota Gereja, yaitu umat yang berkumpul untuk berdoa, bersama para murid Tuhan lainnya dan bunda Maria. Dalam doa-Nya pada Injil hari ini, Yesus mengatakan: “Inilah hidup yang kekal itu…” yaitu “bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus” Dan pertama-tama serta terutama untuk dapat mendekat dan mengenal Allah Bapa serta Yesus Kristus, ialah melalui “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” dengan para murid lainnya serta bunda Maria. Khususnya di saat ini, dimana kita mengalami kekuatiran dan ketakutan bersama persis seperti para murid yang berkumpul dan berdoa bersama itu. –aj




