
Bacaan I: Kis. 2:14a,36-41 ; Bacaan II: 1Ptr. 2:20b-25; Bacaan Injil: Yoh. 10:1-10.
Sudahkah kita menuju pintu yang benar ??
Hari ini Yesus berkata: “Akulah pintu ke domba-domba itu.” (Yoh 10:7), apakah maksudnya perkataan Yesus bahwa diri-Nya adalah “pintu”? Pernyataan bahwa diri-Nya adalah sebuah “pintu” ini untuk menjelaskan perkataan Yesus sebelumnya: “Siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.” (Yoh 10:1-2)
Tentunya kita sudah merasa mengikuti pintu yang benar, karena bukankah kita sudah mengikuti Yesus selama ini. Tetapi dalam pengajaran Yesus kali ini, Ia mengatakan bahwa selain diri-Nya sebagai “pintu”, ada pencuri dan perampok yang selalu ingin mengganggu dan mengalihkan perhatian domba-domba-Nya dari pintu yang sebenarnya. Dan dalam masa puasa panjang yang diberikan Tuhan kepada kita ini, adalah masa yang paling tepat untuk merenungkan apakah kita selama ini sudah benar-benar mengarah dan mengikuti “pintu” yang benar, atau sebaliknya menuju pintu ‘ilusi’ yang dibuat oleh para pencuri dan perampok itu kedalam pikiran kita, sehingga kita mengira dengan menuju pintu itu kita dapat meraih kebahagiaan, atau dapat keluar dari kandang atau penjara hidup kita, tetapi ternyata kita menabrak tembok dan terkejut bahwa selama ini kita telah menuju pintu ilusi yang salah.
Saat ini kita sedang menabrak tembok pintu ilusi itu. Saat ini kita baru menyadari segala macam karir, uang, jabatan dan kenikmatan yang dengan yakin kita kejar selama, begitu rapuhnya hancur dalam ancaman virus covid-19. Sudahkah kita menuju pintu yang benar? Atau selama ini kita menuju pintu ilusi yang kelihatan begitu indahnya, sehingga karena kita begitu inginnya mencapai pintu ilusi yang indah itu kita harus mengabaikan orang-orang yang memerlukan perhatian disekitar kita? Saat menabrak tembok pintu ilusi ini, kita tentunya akan mencari pintu yang lain, apakah kita akan tetap mengabaikan pintu sebenarnya yaitu Yesus, atau tetap ngotot menuju pintu yang kita pikir lebih indah daripada Yesus? (aj)




