
Bacaan I : Kis. 10:34a, 37-43; Bacaan II: Kol. 3:1-4; Bacaan Injil: Yoh. 20:1-9.
MENDENGAR SAPAANNYA
Maria Magdalena adalah salah satu tokoh wanita Perjanjian Baru yang paling populer setelah Bunda Maria. Tidaklah berlebihan jika Dan Brown, dalam bukunya The Da Vinci’s Code menceritakan bahwa Maria Magdalena (bukan Yohanes Rasul) adalah sosok yang duduk disamping Tuhan Yesus dalam lukisan karya maestro Leonardo Da Vinci.
Siapakah Maria Magdalena? Ada beberapa pendapat mengenai dirinya. Ada yang menyebutkan bahwa dialah perempuan yang tertangkap basah ketika sedang berbuah zinah (Yoh 8:2-11). Ada yang mengatakan bahwa dialah perempuan berdosa yang menangis sambil menyeka kaki Yesus dengan rambutnya kemudian meminyaki dengan minyak wangi (Luk 7:36-50). Sementara Alkitab mencatat dia adalah wanita yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus dari roh jahat (Luk 8:2 ; Mrk 16:9).
Lepas dari siapakah sosoknya, namun yang pasti peristiwa Paskah tidak dapat dipisahkan dari Maria Magdalena. Dalam Injil Yohanes, ternyata bukan Petrus, bukan pula Yohanes rasul yang menjadi orang pertama menerima penampakan Tuhan Yesus setelah Dia bangkit, melainkan Maria yang juga dikenal berasal dari Magdala ini.
Mengapa Maria?
Setelah melihat kubur Tuhan Yesus yang kosong, Petrus dan Yohanes pulang (Yoh 20:10). Sedangkan Maria masih berdiri di dekat kubur (ay.11). Ia menangis dan masih berusaha mencari jenazah Tuhan Yesus dengan berpesan kepada sosok yang dikiranya adalah penunggu taman (ay.15). Maria adalah orang yang tidak lelah mencari Tuhan. Cintanya terhadap Tuhan begitu besar, meski sendirian dia tidak menyerah.
Upah orang yang mencari Tuhan adalah menemukan, mengenali dan menjawab sapaan itu (ay 16). Ditengah keheningan pagi, saat Tuhan Yesus memanggil namanya, Maria mengetahui bahwa itu adalah suara Tuhan Yesus, karena itu dia tidak ragu membalas sapaan itu dengan kata “Rabuni” (Guru). Sebuah relasi yang sangat pribadi.
Melalui misteri Paskah, Tuhan juga menyapa kita semua tanpa kecuali. Sapaan itu tidak akan pernah kita dengar jika kita tidak pernah mencariNya. Pun tidak akan ditemukan jika kita mudah menyerah dalam mencariNya. Sapaan itu terdengar indah, mengobati kerinduan bagi siapa saja yang haus untuk berjumpa denganNya.
Semoga dalam kesederhanaan dan keheningan Paskah kali ini, kita mampu mendengar dan menjawab sapaan Tuhan. Selamat Paskah! (CT)




